February 16th, 2011
Dimas
Jari-jari lenturku masih menari dengan cepat di atas keyboard. Layar Laptop di hadapanku terlihat sangat tajam tapi tidak menyilaukan. Sinar yang dipancarkannya memantul di lensa kacamata. Mataku bergerak dari kiri ke kanan mengikuti kedipan pointer dengan cepat secepat tombol-tombol yang naik turun di keyboard. Inspirasi tentang cerita yang Aku buat mengalir deras untuk terciptanya sebuah novel. Kulihat ke pojok layar, dan ternyata baru...
“Assalamualaikum, Bu, Bu, Ibu di mana!”
Terlihat seorang pemuda dengan wajah yang bercahaya dan perawakannya yang tinggi serta tubuh yang berisi. Ia menggunakan celana panjang berwarna hitam dan kemeja putih yang semakin memperlihatkan wajah yang menyejukkan dan penuh optimisme. Saat Ia selesai membuka sepatu hitam yang terawat, Seorang wanita setengah baya yang masih menggunakan celemek masak menghampirinya.
“Wa alaikumsalam, ada apa...
‘Warnet High Speed on-line 24 Jam non stop’. Tulisan hitam tebal yang tertera pada papan yang sudah agak kusam yang ku lihat saat Aku menengok ke sebuah bangunan kecil di pinggir jalan yang senggang. “Jadi kita ke warnet itu, beneran cepet enggak kayak tulisannya?” kata seorang perempuan cantik yang sejak tadi jalan bersamaku.
Sesaat ku pandangi dulu wajah oval yang dihiasi oleh alis tebal dan mata yang cemerlang itu yang kelihatan...
Tangan Pras bergetar ketika Ia berusaha untuk meraih telepon genggamnya. Jari-jarinya mulai menekan key path untuk mencari data nomor seorang perempuan yang sangat dicintanya selama ini. Matanya berusaha keras untuk menahan sesuatu yang sudah sangat ingin meluap. Tuuut… Tuuut…, Terdengar di telinganya nada sambung yang antar nadanya seperti bertahun-tahun jaraknya. Dua, Tiga, Empat, dan sampai nada tunggu ketujuh masih belum ada jawaban. Air...