<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dimas Prasetyo</title>
	<atom:link href="http://www.dimasprasetyo.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dimasprasetyo.net</link>
	<description>Inspiring Your Life</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Dec 2011 12:04:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Putihkan Internet, Berdzikir dalam Blog dan Jejaring Sosial</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/putihkan-internet-berdzikir-dalam-blog-dan-jejaring-sosial-1765</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/putihkan-internet-berdzikir-dalam-blog-dan-jejaring-sosial-1765#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 16:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paper]]></category>
		<category><![CDATA[Jepara]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren Indigo]]></category>
		<category><![CDATA[Republika]]></category>
		<category><![CDATA[telkom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dimasprasetyo.net/?p=1765</guid>
		<description><![CDATA[Buka-buka folder dokumen dan menemukan paper ini. Sudah agak lama dibuat yaitu ketika dipakai sebagai bahan presentasi saat diundang oleh Republika untuk jadi pembicara di pelatihan internet Pesantren Indigo di Kota Jepara 19 Maret 2011. Kota yang indah dan mengesankan. Semoga tulisan ini bermanfaat :) Putihkan Internet, Berdzikir dalam Blog dan Jejaring Sosial[1] (Dimas Prasetyo <a href="http://www.dimasprasetyo.net/putihkan-internet-berdzikir-dalam-blog-dan-jejaring-sosial-1765#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Buka-buka folder dokumen dan menemukan paper ini. Sudah agak lama dibuat yaitu ketika dipakai sebagai bahan presentasi saat diundang oleh Republika untuk jadi pembicara di pelatihan internet Pesantren Indigo di Kota Jepara 19 Maret 2011. Kota yang indah dan mengesankan. Semoga tulisan ini bermanfaat :)</p></blockquote>
<p align="center"><strong>Putihkan Internet, Berdzikir dalam Blog dan Jejaring Sosial<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p align="center">(Dimas Prasetyo Muharam)</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>“Sampaikanlah walau satu ayat”. Penggalan hadits tersebut menjadi inspirasi tiap umat muslim dalam berdakwah. Secara eksplisif, dalam keadaan apapun tiap muslim berkewajiban untuk melakukan siar Islam. Dapat dilakukan ke masyarakat luas, kelompok, atau paling tidak, kepada orang-orang terdekat dalam keluarga. Siar ini tidak melulu mengacu pada kegiatan seperti ceramah atau kuliah yang dilakukan di depan khalayak. Lebih dalam, siar dapat dilakukan melalui tulisan atau tiap perbuatan yang seseorang kerjakan setiap hari. Oleh karena itu, tiap muslim baik disadari atau tidak, telah menjadi Dai dalam arti faktual.<span id="more-1765"></span>Paper bahas presentasi tentang putihkan internet yaitu usaha memperbanyak konten positif di internet oleh para santri pesantren</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun perlu diberi tekanan bahwa hadits tersebut mengandung kata “sampaikan”. Hal ini mengindikasikan bagaimana pesan-pesan kebaikan dari seorang Muslim penting untuk dapat sampai kepada pihak penerima. Bukan hanya berhenti pada tahapan memberikan informasi tanpa memperhatikan apakah pesan tersebut diterima atau tidak. Perlu ada kecerdikan dari seorang Muslim agar siar yang dilakukan dapat tepat sasaran. Apabila sejauh ini dikenal cara-cara konvensional seperti ceramah, masih banyak media lain yang dapat dimanfaatkan yang salah satunya adalah internet.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Media ini seyogyanya mendapat perhatian dari umat Muslim khususnya kalangan santri pesantren dalam melakukan siar Islam. Fakta bahwa mayoritas pengguna internet adalah kalangan muda, menjadi lahan potensial melakukan pembentukan karakter Islami generasi muda yang berasal dari kalangan itu sendiri. Dengan cara yang disukai, baik melalui blog atau situs jejaring social, nasihat menasihati dalam kebaikan sesama anak muda tentu akan dapat berjalan lebih baik. Apalagi ketika insan-insan cendekia dari pesantren ikut berpartisipasi di dalamnya. Tentu kehidupan sehari-hari yang dialami oleh para santri akan mampu menjadi mutiara hikmah yang dapat menginspirasi pengguna internet yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keunggulan Internet</strong></p>
<p>Internet belakangan menjadi sebuah saluran berkomunikasi yang amat fenomenal. Media ini telah mampu membuat komunikasi jarak sejauh apapun menjadi lebih cepat dan mudah. Apabila dahulu untuk mengirim surat diperlukan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu melalui jasa pos, kini dalam hitungan detik surat dapat segera sampai melalui fasilitas surat elektronik atau E-mail.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teknologi ini terus berkembang. Pengguna internet kini mengenal apa yang dinamakan situs jejaring sosial atau <em>Social Network</em>. Terobosan di media internet ini praktis membuat seseorang yang secara geografis berada jauh, terasa tak ada jarak lagi dengan kemampuan yang dimiliki situs jejaring sosial seperti friendster, Facebook, atau Twitter. Dalam sebuah jaringan pertemanan, pengguna dapat melakukan aktivitas yang biasa dilakukan di atas dunia nyata. Mereka dapat saling mengobrol melalui fasilitas <em>chatting</em>, menunjukan apa yang sedang dirasakan dengan update status, dan melampiaskan sifat dasar manusia yang selalu ingin tahu dengan komentar di status teman. Selain fasilitas-fasilitas dasar tersebut, masih ada kemudahan untuk menulis catatan dalam notes atau upload foto yang dapat ditinjau oleh pengguna lain yang berada dalam satu jaringan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak berhenti sampai di sana, perkembangan website 2.0 turut memberikan nafas baru dalam interaksi ranah internet. Beberapa tahun yang lalu, situs-situs masih bersifat statis. Tujuan utama dari situs masa itu hanya sebagai pusat informasi dan penyampaiannya berjalan satu arah. Pengunjung hanya dapat mengambil informasi, tak dapat turut berkontribusi atau berinteraksi dengan pengunjung lain di halaman situs tersebut. Namun kini interaksi pengunjung sudah mulai diakomodasi oleh internet. Pengguna dapat memberikan tanggapan langsung pada informasi yang didapatkan. Mereka dapat pula berinteraksi dengan pengunjung lain melalui fasilitas kolom komentar atau chatting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Media lain yang luar biasa di internet adalah blog. Blog merupakan penemuan revolusioner yang secara drastis mempermudah pengguna dalam membuat situs atau halaman demi halaman milik sendiri di belantara internet. Apabila dulu untuk membuat sebuah situs dibutuhkan web designer khusus dan profesional, kini sedikit demi sedikit masalah itu dapat dipecahkan oleh CMs atau Content Management System yang jauh lebih mudah dan murah. Bahkan dalam hal blogging, cukup beberapa klik pengguna internet dapat memiliki halaman blog sendiri dengan cepat dan gratis. Penyedia jasa free blogging seperti blogspot, wordpress, atau multiply sudah amat populer dan mudah digunakan oleh pemula sekalipun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berbagi Kebaikan di Blog</strong></p>
<p>Blog merupakan salah satu media di internet yang mengizinkan pemilik blog untuk melakukan apa saja. Konsepnya seperti kepemilikan rumah di salah satu sudut belantara internet. Di dalamnya blogger dapat menulis pengalaman hidup, menyisipkan foto atau video, dan berinteraksi melalui kolom komentar yang disediakan. Melalui kolom komentar ini, akan terjalin interaksi dan ikatan antara blogger dan pengunjung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai blogger muslim, tentu perlu diingat bahwa segala apa yang dikerjakan pasti ada pertanggungjawabannya kepada Allah SWT. Apa yang ditulis atau diunggah di dalam blog, tentu akan memiliki dampak bagi para pengunjung yang baik sengaja atau tidak sengaja melalui search engine mengunjungi blog tersebut. Tentu konten yang disajikan harus bermanfaat dan memberikan dampak positif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Termasuk ketika para santri ingin memanfaatkan media blog sebagai wahana siar Islam. Tak perlu sulit-sulit, santri sudah dapat berdakwah ketika mau berbagi risalah-risalah mengenai Islam di halaman blognya. Apa yang dipelajari di kelas atau hasil diskusi dengan Kyai atau santri lain merupakan sumber ilmu yang akan lebih bermanfaat ketika telah dibagikan dalam blog, dimana siapa saja dari tempat manapun dapat mengakses dengan bebas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, pengalaman keseharian santri selama berada di lingkungan pesantren pun dapat menjadi alat dakwah yang menarik. Sisi dalam kehidupan santri selama berada di pesantren tentu sebuah hal yang unik. Kegiatan belajar mengajar, pergaulan sesama santri, atau kejadian-kejadian lucu yang disajikan dengan baik akan mengundang pengunjung yang setia untuk mengikuti update di blog.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Strategi Berdakwah dalam Blog</strong></p>
<p>Seperti layaknya perang, berdakwah dalam blog pun perlu strategi. Perang melawan konten-konten negatif yang beredar di internet perlu digalakan oleh tiap muslim dengan terus menerus memperbanyak konten-konten positif. Langkah ini adalah jalan satu-satunya karena mustahil memblokir seluruh konten negatif di media yang memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi pengguna mengekspresikan hal apapun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Strategi ini bertujuan untuk menarik pengunjung-pengunjung tetap yang mengikuti perkembangan dalam blog. Tak jauh berbeda ketika memasarkan suatu produk. Sebaik apapun produk yang dihasilkan tanpa kemasan dan strategi pemasaran yang baik, maka penjualan produk tersebut tak dapat dikatakan berhasil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal pertama yang perlu dilakukan oleh para Dai blogger adalah membuat blog yang unik. Blog perlu memiliki tema atau topik tertentu yang berbeda dari blog-blog lain. Perlu diketahui bahwa 80% dari pengguna internet menggunakan mesin pencari (Search Engine) untuk menemukan sebuah konten. Penentuan hasil pencarian ini ditentukan oleh semakin spesifiknya kedekatan antara kata kunci dengan situs yang dicari. Oleh karena itu, semakin unik blog yang dibuat, maka akan semakin mudah bagi pengunjung ketika memasukan kata kunci terkait di mesin pencari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, sebuah blog yang unik biasanya akan sulit untuk diabaikan oleh pengguna internet. Ketika seseorang menemukan sebuah blog yang menyajikan informasi atau konten-konten yang bermanfaat, maka ada kemungkinan mereka akan kembali ke blog tersebut di kemudian hari. Dalam tahapan ini, sudah ada ikatan imaginer yang terjadi antara blog dan pengunjungnya.</p>
<p>Langkah berikutnya adalah membangun hubunga yang lebih erat antara blogger dan pengunjung. Di dalam blog ada kolom untuk berkomentar. Di sana biasanya pengunjung akan memberikan tanggapan atau bertanya terkait dengan tulisan yang ada di blog. Agar pengunjung merasa diperhatikan, blogger sebaiknya segera menanggapi balik komentar yang diberikan oleh pengunjung. Hal ini akan memberikan kesan bahwa blog tersebut hidup dan tidak ditinggalkan begitu saja oleh bloger empunya. Dengan interaksi yang intensif ikatan emosional tersebut dapat terbentuk, dan pengunjung akan setia untuk menunggu update blog.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah pada tahapan responsif, blogger pun perlu untuk memperbaharui (update) blog secara rutin. Buat tulisan-tulisan yang berkelanjutan dan jangan pernah membiarkan blog tidak memberikan tulisan baru terlalu lama. Karena pengunjung yang telah merasa menemukan blog yang unik biasanya akan mengunjungi blog tersebut di kemudian hari. Tentu ketika dia mengunjungi blog itu lagi, mereka ingin membaca tulisan-tulisan baru di sana. Apabila blog terkesan ditelantarkan, maka pengunjung dapat kecewa dan mungkin tak akan berkunjung kembali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sampai di sini sebuah blog telah memiliki pengunjung-pengunjung setia. Blogger telah memiliki komunitas kecil yang berpusat pada blog yang dikelolanya. Namun akan lebih efektif jika blogger membentuk lagi komunitas lebih besar sesama blogger dengan visi yang serupa. Interaksi sesama blogger akan mampu meningkatkan publisitas dari blog-blog anggotanya. Pengunjung dapat lebih terfasilitasi dengan banyaknya pilihan dalam satu lingkup yang sama. Selain itu, interaksi antar blogger pun dapat memperkaya pengetahuan sesama blogger. Mereka dapat saling berdiskusi dan bertukar pengalaman mengenai dunia blogging.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perlu dicatat bahwa dunia blogging tak ubahnya dengan kehidupan nyata. Semakin banyak seorang blogger berbagi hal-hal bermanfaat kepada orang lain, maka akan semakin dikenal blogger tersebut. Begitu pula ketika kemampuan komunikasi blogger tersebut yang menyenangkan kepada para penunjungnya. Ia akan semakin disukai dan memberikan kenyamanan ketika pengunjung Blog Walking di sana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bertasbih dalam Jejaring Sosial</strong></p>
<p>Banyak kalangan yang menganggap situs-situs jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter memberikan dampak negatif dalam masyarakat. Kasus-kasus seperti siswa yang malas belajar atau penculikan berkedok teman facebook kerap menjadi headline berita-berita kriminal. Dalam melihat stereotipe ini, sebaiknya perlu dilihat lagi apa dasar dari diciptakannya situs jejaring sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada dasarnya, internet beserta media-media didalamnya diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia, terutama dalam berkomunikasi. Melalui situs jejaring sosial, orang-orang yang tinggal berjauhan, dapat berinteraksi dengan mudah melalui situs tersebut. Dengan situs jejaring sosial pula, dapat ditemukan teman lama atau kontak publik figur yang memungkinkan pengguna internet untuk melakukan interaksi secara langsung dengan mereka. Singkat kata, anggapan ini tergantung bagaimana pengguna internet memperlakukan situs jejaring sosial secara bijak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut penulis, kemampuan luar biasa yang ditawarkan oleh situs-situs jejaring sosial ini dapat pula dimanfaatkan sebagai media dakwah. Melalui interaksi aktif dengan sesama pengguna lainnya, santri dapat menunjukan sikap interaktif yang Islami secara konsisten. Karena tiap Muslim adalah suri tauladan untuk orang-orang di sekitarnya, maka dakwah ini dapat dilakukan melalui tiap status atau update yang dibuat oleh santri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal termudah yang dapat dilakukan dalam situs jejaring sosial antara lain dengan update status Facebook atau twitter yang positif. Positif di sini mengacu pada kalimat-kalimat yang tidak terkesan mengeluh atau sekedar curhat yang mengumbar emosi. Karena sejauh pengamatan penulis, status atau wall di Facebook biasanya dipenuhi dengan keluhan demi keluhan hidup yang secara tidak langsung dapat memberikan aura negatif kepada teman yang membacanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akan amat berbeda ketika para santri dapat membagikan mutiara hikmah dari pengalaman hidup yang dialami sehari-hari. Seperti contoh ketika sedang ditimpa sebuah masalah, seorang pengguna Facebook akan cenderung untuk update status untuk mendapatkan perhatian dari teman-temannya. Sebagai seorang yang telah memapu melihat hikmah di balik setiap masalah, seyogyanya dalam mengungkapkan masalahnya, ditulis melalui sudut pandang yang lebih positif. Bukan mengeluh melainkan turut memotivasi orang yang membacanya agar selalu bersyukur dan mengambil hikmah dari setiap musibah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih jauh, melalui jejaring sosial pun santri dapat berbagi ilmu dengan lebih interaktif. Hal ini merupakan bentuk lebih maju dari sekedar berbagi pengetahuan di blog. Twitter, menjadi solusi terbaik dalam hal ini. Di dalam konsep Twitter, ada yang dinamakan followers atau pengguna twitter lain yang memantau twit demi twit yang dihasilkan. Pada umumnya, semakin sebuah account twitter bermanfaat, maka akan semakin banyak memiliki follower.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melalui Twitter, santri dapat berbagi ilmu secara berkala tentang subjek tertentu. Kuliah yang dibagikan berupa kalimat-kalimat singkat sebatas 140 karakter yang kemudian dapat dibaca oleh semua followers. Para followers pun dapat secara interaktif bertanya kepada pembuat twit atau sekedar menanggapi twit yang dibuat. Cara ini secara langsung akan membuat komunikasi dua arah dapat dilakukan ke banyak orang dengan lebih masif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menulis dan Terus Menulis</strong></p>
<p>Agar kegiatan dakwah dapat dilakukan secara konsisten, santri tak perlu memikirkan hal-hal hebat apa yang perlu dibgikan. Mulailah dari diri sendiri melalui apa yang menjadi kemampuan masing-masing. Ketika sesuatu yang dibagikan tersebut adalah bagian dari hobi atau kegemaran, maka akan ada efek ganda yang dihasilkan. Pertama adalah manfaat yang dapat diambil oleh orang yang mengunjungi blog atau account jejaring sosial kita, dan efek lain adalah kepuasan untuk menyalurkan hobi pribadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis sendiri pun melakukan hal tersebut untuk aktif memperkaya konten dalam dunia internet. Ada kepuasan pribadi ketika apa yang dibagikan dapat diambil manfaatnya oleh orang lain. Ada sensasi tersendiri ketika tulisan kita mendapatkan komentar atau sekedar diberi tanda “like” di Facebook.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara rutin, biasanya penulis mengisi blog pribadi dengan tulisan-tulisan dari kuliah di kelas. Baik esei atau makalah tersebut penulis terbitkan di blog, tentu dengan perubahan secukupnya. Artikel-artikel penulis yang diterbitkan di koran turut dimasukan pula ke dalam blog. Cara ini dilakukan agar frekuensi update blog tetap terjaga dan pengetahuan yang ada di artikel tersebut dapat tersebar lebih luas melalui internet.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada dasarnya, kegiatan menulis tak boleh berhenti. Setiap ada peristiwa menarik di sekitar, tulislah. Ketika terlintas sebuah pemikiran yang sekiranya menarik untuk didiskusikan, tulislah. Atau mungkin ada pelajaran yang baru didapat dari guru atau ustadz, tulislah. Apapun yang positif dan bermanfaat bagi khalayak, tuangkan dalam bentuk tulisan. Bentuk dapat berupa apa saja, tergantung kegemaran masing-masing. Ada yang lebih suka dengan artikel opini, makalah ilmiah, atau mungkin cerpen dan puisi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Internet adalah media yang amat potensial dijadikan sarana dakwah. Tiap santri, dengan ilmu agama dan pengalaman kesehariannya yang Islami, dapat dijadikan sumber inspirasi yang dapat dibagikan kepada para pengguna internet. Karena dengan akhlaq dan kebiasaan hidup yang dibina oleh pesantren, menjadikan keseharian hidup santri layak untuk dibagikan kepada khalayak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, jadikanlah pula usaha membendung konten-konten negatif dengan memperbanyak yang positif ini sebagai salah satu bentuk Jihad. Ketika tiap hari situs-situs yang bermaterikan hal-hal negatif terus bertambah, lawan dengan menyebarkan kebaikan melalui internet. Karena hanya dengan jalan itu dampak negatif internet dapat sedikit demi sedikit direduksi dan Insya Allah Indonesia akan menjadi lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Makalah ini dibuat sebagai bahan pelatihan internet masuk pesantren di Jepara yang diselenggarakan atas kerja sama PT Telkom dan Harian Republika20 Maret 2011.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/putihkan-internet-berdzikir-dalam-blog-dan-jejaring-sosial-1765/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memanfaatkan New Media untuk Aksi Sosial pada Penyandang Disabilitas</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/memanfaatkan-new-media-untuk-aksi-sosial-penyandang-disabilitas-1761</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/memanfaatkan-new-media-untuk-aksi-sosial-penyandang-disabilitas-1761#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 00:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[aksi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[disabilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Young Netizen Day]]></category>
		<category><![CDATA[new media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dimasprasetyo.net/?p=1761</guid>
		<description><![CDATA[“Siapa menguasai informasi akan menguasai dunia”. Mungkin pernyataan itu tidak berlebihan melihat fakta yang terjadi saat ini. Perkembangan teknologi informasi yang telah memasuki sendi-sendi kehidupan manusia punya kekuatan besar untuk mengarahkan opini masyarakat. Masih lekang dalam ingatan kasus Ibu Prita yang dituduh telah mencemarkan nama baik rumah sakit OMNI International yang akhirnya bebas karena mendapat <a href="http://www.dimasprasetyo.net/memanfaatkan-new-media-untuk-aksi-sosial-penyandang-disabilitas-1761#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Siapa menguasai informasi akan menguasai dunia”. Mungkin pernyataan itu tidak berlebihan melihat fakta yang terjadi saat ini. Perkembangan teknologi informasi yang telah memasuki sendi-sendi kehidupan manusia punya kekuatan besar untuk mengarahkan opini masyarakat. Masih lekang dalam ingatan kasus Ibu Prita yang dituduh telah mencemarkan nama baik rumah sakit OMNI International yang akhirnya bebas karena mendapat dukungan kuat dari publik. Ada pula Deponering kasus kriminalisasi KPK pada Bibit Candra yang didukung oleh publik dengan gerakan Cicak vs Buaya.<span id="more-1761"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang membuat masyarakat dapat bergerak serentak untuk memperjuangkan apa yang disebut “rasa keadilan” tersebut? Bukan uang atau kekuatan militer pemerintah. Mereka hanya terdorong oleh panggilan moral dan anak dari media baru (new media) yang disebut jejaring sosial. Reputasi sebagai negara kedua terbesar pengguna Facebook dan pertama di Asia untuk Twitter, tentu menjadikan suara-suara yang berseliweran di dua situs jejaring sosial (social network) tersebut berpengaruh besar di masyarakat, khususnya generasi muda. Mereka inilah lapisan di masyarakat yang paling aktif dan dekat dengan dunia internet. Tak heran jika aksi-aksi sosial saat ini sering bermula dari internet karena para penggeraknya adalah generasi muda yang dinamis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melihat perkembangan ini, internet menjelma jadi media yang mampu meretas batas waktu dan geografis untuk menghubungkan penggunanya dalam satu wadah. Siapa saja, tanpa perlu pengetahuan rumit untuk belajar internet, dapat dengan satu klik untuk berselancar di internet. Namun pernahkah anda membayangkan di salah satu sudut di belantara internet ini, ada sekelompok anak muda tunanetra yang turut melakukan aksi sosial? Mungkin tak pernah terfikirkan karena tunanetra notabenya memiliki gangguan pada indera penglihatan, sehingga mustahil dapat mengakses internet. Jika anda belum percaya, coba kunjungi situs <a href="http://www.kartunet.com/">http://www.kartunet.com</a> dimana penulis turut menjadi salah satu pendirinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>New media dimanfaatkan oleh sekelompok anak muda tunanetra yang tergabung di Kartunet.com sebagai sarana aksi sosial untuk mengajak masyarakat agar lebih mengenal tunanetra dan penyandang disabilitas lain pada umumnya. Gerakan ini dilatarbelakangi oleh fakta minimnya informasi mengenai seluk-beluk penyandang disabilitas yang diperoleh masyarakat, sehingga membuat terkadang hak-hak para penyandang disabilitas terabaikan. Bukan karena masyarakat tidak peduli atau “kejam”, fakta ini lebih disebabkan oleh faktor ketidak-tahuan masyarakat bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas dengan benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal pertama yang disampaikan oleh Kartunet.com adalah bahwa tunanetra tidak harus selalu tukang pijat, dan mereka dapat mengakses komputer serta internet. Kata Kartunet sendiri berasal dari gabungan dua kata “karya” dan “tunanetra”. Mereka ingin menunjukkan bahwa situs Kartunet.com adalah hasil karya tunanetra dan pengelolaannya ditangani langsung oleh para tunanetra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mungkin anda masih ragu bagaimana mereka dapat mengakses komputer? Kunci para tunanetra yang tak memiliki penglihatan sempurna dapat mengakses perintah-perintah dalam komputer terletak pada perangkat lunak pembaca layar (screen reader) yang digunakan. Untuk komputer dan laptop yang digunakan adalah sama dengan apa yang beredar di pasaran atau yang mungkin saat ini sedang anda gunakan pula. Hanya agar tunanetra dapat mengoperasikannya, diperlukan perangkat lunak tambahan yang disebut Screen Reader. Perangkat lunak ini mengkonversi tampilan visual ke dalam bentuk audio untuk didengarkan oleh pengguna tunanetra. Setiap kali mereka menekan tombol pada keyboard, akan dikeluarkan suara yang menyebutkan fungsi tombol tersebut. Jadi, meski tidak melihat tampilan di layar, tunanetra tetap dapat bernavigasi di komputer dengan bantuan suara yang dihasilkan perangkat lunak tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara umum, Kartunet.com punya dua tujuan dalam aksi sosialnya. Pertama mereka ingin dapat menginspirasi masyarakat Indonesia dengan berbagai kisah inspiratif dan informasi mengenai prestasi para penyandang disabilitas. Dengan keterbatasan yang dimiliki para penyandang disabilitas, mereka tetap dapat berkarya, dan hal ini diharapkan mampu memompa semangat masyarakat yang sempurna secara fisik dan mental agar dapat lebih produktif lagi. Seperti moto yang mereka usung yaitu “Mengatasi keterbatasan tanpa batas”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih jauh, sekedar menginspirasi tidak cukup dalam aksi sosial untuk mengangkat kaum disabilitas setara dalam masyarakat. Tujuan kedua Kartunet.com adalah menggerakkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar peduli dan sadar bahwa penyandang disabilitas tetap jadi bagian dari keberagaman masyarakat. Mereka bukan “orang aneh” yang harus dijauhi atau hanya dikasiani. Mereka pun individu yang punya potensi dan mampu ikut berkontribusi dalam masyarakat apabila diberikan akses yang sesuai. Oleh karena itu, Kartunet.com melibatkan partisipasi generasi muda untuk melakukan aksi perubahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Media baru internet bagi tunanetra punya arti yang amat besar. Dibandingkan dengan media cetak, internet jauh lebih aksesibel. Dengan bantuan perangkat lunak pembaca layar, kehadiran internet membuka banyak peluang pengembangan diri bagi tunanetra. Mereka dapat belajar dari forum-forum diskusi dan situs jejaring sosial dari netizen yang dengan suka rela membagikan ilmunya. Ilmu tersebut dapat langsung mereka coba tanpa perlu datang jauh-jauh ke workshop yang terkadang kendala terbesar mereka adalah pada mobilitas. Hasilnya, sudah ada beberapa tunanetra saat ini yang mampu menjadi penulis, programmer, composer musik digital, dan lain-lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain itu, media baru turut pula memberikan akses bagi tunanetra untuk menyampaikan pendapatnya secara langsung ke muka publik. Pada forum-forum di Kartunet.com misalnya. Mereka dengan bebas dapat mengungkapkan opininya akan suatu isu yang dapat ditanggapi oleh satu sama lain. Dari sana terlihat bahwa mereka pun punya konsepsi yang patut diketahui oleh publik. Tidak hanya menjadi objek pasif, melainkan subjek aktif yang ingin pula berkontribusi bagi kemajuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mengetahui ini semua, sudah saatnya generasi muda pada umumnya untuk mendukung aksi sosial mewujudkan Indonesia yang lebih ramah pada penyandang disabilitas ini. Generasi muda yang punya pemikiran lebih terbuka, tentu lebih muda pula untuk menerima konsep disabilitas sebagai bagian dari keberagaman ini. Melalui dunia maya, sapa mereka yang memiliki disabilitas dengan interaksi langsung di forum-forum dan situs jejaring sosial. Kenali mereka dan ajak sahabat serta keluarga untuk memahami informasi yang benar tentang kaum disabilitas. Sehingga demikian, tak ada lagi rasa canggung ketika suatu saat bertemu langsung di jalan, gedung, atau tempat publik lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti ketika anda melihat seorang tunanetra yang ingin menyeberang jalan raya. Apa yang harus anda lakukan? Kebanyakan orang hanya sampai pada rasa kasian dalam hati dan tak ada aksi untuk membantu mereka menyeberang jalan karena tak tahu caranya. Dengan informasi yang baik, seharusnya masyarakat segera tanggap dengan terlebih dahulu menyentuh tangan si tunanetra, bertanya ingin kemana, dan membantunya menyeberang dengan cara menuntun yang benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih jauh, ketika kelak generasi muda saat ini menjadi pemimpin bangsa, tentu pemahaman akan kebutuhan penyandang disabilitas akan masuk dalam tiap kebijakan yang dibuat. Seperti contoh fasilitas umum. Pengetahuan tentang kebutuhan pengguna kursi roda seyogyanya membuat kebijakan pembuatan jembatan penyeberangan tidak dibuat berundak-undak, tetapi dibuat landai agar mereka dapat melintas dengan mandiri. Sama halnya dengan pembangunan fasilitas umum lain seperti trotoar. Agar tunanetra dapat berjalan dengan aman, dibuat semacam Braille Block yang dapat memandu tunanetra dalam berjalan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga apa yang telah dilakukan anak muda tunanetra yang memanfaatkan internet sebagai media aksi sosial dapat menginspirasi netizen muda untuk melakukan hal yang sama. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk bergerak melakukan aksi sosial untuk membuka akses penyandang disabilitas dalam masyarakat. Manfaatkan trend penggunaan new media seperti blog dan jejaring sosial untuk menyebarkan informasi dan mengajak masyarakat agar peduli pada penyandang disabilitas. Dengan partisipasi aktif dari generasi muda, kelak Indonesia akan menjadi lebih nyaman bagi semua, termasuk mereka yang memiliki disabilitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Esei pernah diikutsertakan dalam lomba esei Indonesia Young Netizen Day (IYND) tahun 2011 dan masuk dalam peringkat 20 besar.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/memanfaatkan-new-media-untuk-aksi-sosial-penyandang-disabilitas-1761/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi, Peretas Batas Disabilitas</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/teknologi-peretas-batas-disabilitas-1755</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/teknologi-peretas-batas-disabilitas-1755#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 22:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[accessible technology]]></category>
		<category><![CDATA[disabilitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dimasprasetyo.net/?p=1755</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan teknologi informasi merambah berbagai sendi kehidupan manusia. Anak peradaban ini telah banyak mempermudah kegiatan manusia, terutama di bidang komunikasi. Interaksi jarak jauh yang dahulu mahal dan sulit, tak menjadi kendala lagi di era modern. Perkembangan alat-alat telekomunikasi seperti radio, televisi, ponsel, komputer, dan internet telah mampu menjawab persoalan tersebut. &#160; Tak hanya komunikasi, banyak <a href="http://www.dimasprasetyo.net/teknologi-peretas-batas-disabilitas-1755#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan teknologi informasi merambah berbagai sendi kehidupan manusia. Anak peradaban ini telah banyak mempermudah kegiatan manusia, terutama di bidang komunikasi. Interaksi jarak jauh yang dahulu mahal dan sulit, tak menjadi kendala lagi di era modern. Perkembangan alat-alat telekomunikasi seperti radio, televisi, ponsel, komputer, dan internet telah mampu menjawab persoalan tersebut.<span id="more-1755"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak hanya komunikasi, banyak hal luar biasa lain yang terwujud berkat teknologi informasi. Seperti hadirnya internet dan fasilitas surat elektronik atau email. Cukup dengan koneksi internet dan sebuah account free email, puluhan hingga ribuan pesan dapat terkirim ke pelosok dunia dalam waktu beberapa detik pada satu kali klik. Ini mungkin suatu hal yang setengah abad lalu belum terbayangkan manusia. Ketika pengiriman pesan masih melalui jasa pos yang memakan waktu lama. Ada pula saat ini teknologi 3G yang memungkinkan pengguna dapat berkomunikasi audiovisual secara real time. Seakan pihak yang diajak berkomunikasi berada langsung di depan mata pengguna. Terobosan-terobosan ini yang dulu mungkin hanya ada di cerita-cerita fiksi ilmiah, kini telah ada dan mengubah hidup manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, dari semua kemajuan tersebut ada kelompok masyarakat dunia ini yang seharusnya paling mendapatkan dampak positif. Mengapa “seharusnya”? Itu karena teknologi informasi saat ini masih relatif mahal untuk dijangkau semua orang. Mereka adalah para penyandang disabilitas, yang dahulu disebut dengan istilah penyandang cacat. Dengan sokongan teknologi informasi yang berkembang saat ini, berbagai hal yang selama ini membatasi mereka mulai teratasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pernahkah anda bayangkan bagaimana tunanetra dapat membaca buku? Memang sudah dikenal ada sistem huruf khusus bagi mereka yang disebut Braille. Namun dengan bantuan teknologi informasi, mereka mampu membaca tanpa huruf braille. Apakah pernah terbayang pula, bagaimana mereka (tunanetra) mampu berselancar di internet? Mustahil tentu jika dipikirkan bahwa mereka tak mampu melihat tampilan yang ada di layar komputer. Namun faktanya, mereka bisa! Bahkan di antara mereka saat ini cukup akrab dengan dunia blogging dan pembuatan website atau situs internet.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam artikel ini, akan dibahas bagaimana para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, mampu memanfaatkan teknologi informasi dalam rangka mengatasi keterbatasan fungsi penglihatannya. Dari mulai stereotip terhadap tunanetra yang berlaku di dalam masyarakat, permasalahan yang dihadapi, peranan teknologi informasi, hingga implementasi teknologi itu sendiri sebagai solusi bagi mereka. Oleh karenanya akan terlihat efek teknologi informasi yang mampu menjembatani ketertinggalan tunanetra untuk mencapai kesetaraan di masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masyarakat Indonesia pada umumnya masih melihat penyandang disabilitas sebagai kaum marginal. Mereka tersisih dari interaksi masyarakat karena dianggap tidak mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang “normal”. Selain itu, penggunaan istilah cacat turut memberikan kesan segregatif antara mereka yang dianggap “cacat” dengan mereka yang merasa “normal”. Konotasi negatif dari kata tersebut dengan sendirinya telah menanamkan konsep bahwa mereka tak mampu hidup normal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hakikatnya, istilah disabilitas mengacu pada terbatasnya fungsi atau kemampuan seseorang yang diakibatkan oleh terganggunya fisik, mental, intelektual, atau indera tertentu. Apabila dipahami lebih jauh, pernyataan ini menjelaskan bahwa seorang penyandang disabilitas mengalami keterbatasan pada salah satu atau beberapa fungsi aktivitasnya sehingga memerlukan perlakuan khusus. Perlakuan khusus ini bukan sebagai bentuk pengistimewaan, melainkan usaha agar penyandang disabilitas mampu mencapai kesetaraan hak seperti anggota masyarakat yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti contoh seorang tunanetra yang belajar di sekolah umum atau inklusi. Pada saat ujian, siswa yang nondisabilitas akan ujian dengan kertas soal dalam tulisan awas, pensil, dan pulpen. Di sini siswa tunanetra tentu tidak akan dapat mengikuti ujian jika menempuh cara yang sama dengan siswa nondisabilitas. Oleh karena itu, perlu perlakuan khusus dengan membacakan soal ujian atau memberikan soal ujian dalam format huruf braille. Dengan demikian, siswa tersebut tetap mendapatkan haknya untuk ikut ujian, meski dengan cara yang berbeda (perlakuan khusus).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih lanjut, efek dari terpinggirkannya penyandang disabilitas di dalam masyarakat adalah stereotip pada diri mereka. Mereka yang dianggap cacat, pada umumnya diidentikkan dengan seorang pengemis. Karena kesan cacat mengacu pada kerusakan dan ketidakmampuan. Hal ini tentu amat merugikan bagi penyandang disabilitas. Oleh karenanya, muncullah stereotip bahwa tunanetra hanya bisa jadi tukang pijat, orang cacat fisik jadi pengemis di jembatan penyeberangan, dan yang cacat mental dianggap orang gila. Padahal mereka pun memiliki kemampuan yang sama dengan orang lain jika diberikan kesempatan yang sesuai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti apa yang dilakukan oleh sekelompok tunanetra yang merintis sebuah situs beralamat di http://www.kartunet.com. Dalam wadah bernama Kartunet Community Indonesia, mereka memanfaatkan keunggulan teknologi informasi untuk mendobrak stereotip masyarakat yang berlaku saat ini. Di dalam situs Kartunet.com, mereka ingin menunjukkan bahwa tunanetra pun mampu melakukan apa yang dapat dilakukan oleh orang “normal” di belantara internet.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apabila dilihat sekilas, akan ditemui sebuah situs yang tak ubahnya dengan jutaan situs lainnya. Berbagai fitur yang disediakan dapat diakses oleh siapa saja, baik disabilitas atau nondisabilitas. Namun jika diklik pada halaman profil Kartunet, maka akan tertera dengan jelas bahwa situs tersebut dibuat oleh para tunanetra Indonesia sejak 19 Januari lima tahun silam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Situs Kartunet.com menjadi representasi dari potensi-potensi tunanetra yang mungkin tidak disadari oleh masyarakat umum. Di sana dapat ditemui bahwa tunanetra memiliki kemampuan untuk menulis baik fiksi atau nonfiksi yang tak kalah dengan orang “normal”. Mereka pun ada yang menguasai bidang IT dan mampu memberikan tutorial-tutorial untuk para pengunjungnya. Jejaring sosial, blogging, coding HTML atau PHP bukan jadi hal yang asing bagi komunitas Kartunet.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dasar pengembangan kemampuan para tunanetra ini terletak pada perangkat lunak screen reader (pembaca layar) yang dipasang pada komputer, laptop, atau ponsel yang digunakan. Setelah dilengkapi dengan program pembaca layar, maka dinamakanlah alat itu komputer, laptop, atau ponsel bicara. Software tersebut mereproduksi tampilan visual ke dalam bentuk audio, sehingga dapat diakses oleh pengguna tunanetra. Ketika menekan tombol-tombol pada keyboard komputer/laptop atau keypad ponsel, akan disebutkan pula tombol tersebut. Oleh karenanya tunanetra dapat mengidentifikasi perintah-perintah yang dia masukkan meski tidak melihat baik keterangan tombol atau tampilan di layar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dampak yang dihasilkan dari teknologi ini amat besar bagi tunanetra. Di bidang pendidikan, proses pengerjaan tugas yang dahulu perlu bantuan orang awas untuk menuliskannya di atas kertas, dengan bantuan komputer dan printer proses itu dapat dilakukan secara mandiri. Seperti itu pula ketika harus mencari sumber data. Media internet terbuka luas dan dapat dijelajahi tanpa batas. Adapun untuk mengakses buku cetak, tunanetra dapat memindainya terlebih dahulu dengan scanner untuk kemudian dibaca di komputer bicara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat memasuki dunia kerja pun kemajuan teknologi informasi turut mendukung kemandirian tunanetra. Dengan keterampilan untuk mengoperasikan komputer dan program microsoft office memungkinkan tunanetra untuk melakukan tugas-tugas administratif. Namun kemampuan ini terkadang belum diketahui oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, sehingga mereka masih enggan untuk mempekerjakan tunanetra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak habis akal, sokongan teknologi ternyata dapat membantu pula bagi tunanetra yang ingin menjadi wirausahawan, terutama di sektor bisnis dan marketing online. Dengan memanfaatkan kekuatan jejaring sosial, blog, pemasran online, dan skill komunikasi yang baik, tak sulit seorang tunanetra untuk dapat sukses di bisnis ini. Mengingat dalam dunia online tak ada lagi diskriminasi. Siapa yang dapat mengikuti perkembangan arus informasi, dia yang akan menguasai pasar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai penutup, sekali lagi konsep mengenai disabilitas perlu dilihat dari perspektif yang lebih positif. Disabilitas bukan sebuah kekurangan atau kecacatan, tapi keberagaman. Terganggunya salah satu atau lebih fungsi untuk mencapai suatu tujuan bukan berarti penyandang disabilitas tidak mampu. Dengan perlakuan yang sesuai, mereka dapat mencapai tujuan itu meski cara yang ditempuh berbeda. Salah satu cara yang dapat dipakai adalah dengan bantuan teknologi informasi. Dari semua kemudahan yang ditawarkan, penyandang disabilitas mampu untuk lebih memaksimalkan kemampuannya. Contoh konkrit adalah situs http://www.kartunet.com yang dibuat oleh sekelompok tunanetra. Mereka mampu mengembangkan dirinya sendiri, hingga meretas batas keterbatasannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/teknologi-peretas-batas-disabilitas-1755/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meraba Gema Braille di Dunia Maya</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/meraba-gema-braille-di-dunia-maya-1752</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/meraba-gema-braille-di-dunia-maya-1752#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 22:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[BPBI Abiyoso]]></category>
		<category><![CDATA[Gema Braille]]></category>
		<category><![CDATA[tunanetra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dimasprasetyo.net/?p=1752</guid>
		<description><![CDATA[Braille telah lekat dengan kehidupan seorang tunanetra. Aksara yang terbentuk dari kombinasi enam titik itu menjelma dalam diri tunanetra sebagai sebuah identitas. Majalah Gema Braille, jadi salah satu representasi dari identitas tersebut. Merefleksikan sebuah semangat dan hasrat tunanetra untuk terus menggali ilmu dan pengetahuan di tengah-tengah zaman yang terus berubah. &#160; Majalah Gema Braille hadir <a href="http://www.dimasprasetyo.net/meraba-gema-braille-di-dunia-maya-1752#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Braille telah lekat dengan kehidupan seorang tunanetra. Aksara yang terbentuk dari kombinasi enam titik itu menjelma dalam diri tunanetra sebagai sebuah identitas. Majalah Gema Braille, jadi salah satu representasi dari identitas tersebut. Merefleksikan sebuah semangat dan hasrat tunanetra untuk terus menggali ilmu dan pengetahuan di tengah-tengah zaman yang terus berubah.<span id="more-1752"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Majalah Gema Braille hadir untuk mengakomodasi kebutuhan tunanetra akan informasi. Dia menjadi pelita di tengah gelap bagi tunanetra yang tak dapat mengakses bacaan konvensional seperti koran atau majalah. Ironis memang, tunanetra seakan terkubur di tengah lautan informasi yang tak dapat diakses karena tak tersedianya bacaan dalam format huruf braille. Tak dapat dibayangkan betapa semakin gelap wawasan tunanetra jika majalah Gema Braille ini tak pernah hadir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, penulis membayangkan suatu hari majalah Gema Braille ini dapat diakses pula melalui internet. Memang, penyajiannya tentu tidak dalam format huruf braille. Akan tetapi makna semangat dari Gema Braille sebagai media informasi tunanetra tak akan hilang. Dia akan tetap hadir dengan informasi-informasi yang memang dibutuhkan oleh para tunanetra. Malah dengan cakupan yang lebih luas dan mampu menjangkau para tunanetra yang tinggal di seluruh nusantara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fakta bahwa semakin banyak jumlah tunanetra yang mampu mengakses komputer bicara dan internet seyogyanya dapat diakomodasi oleh majalah Gema Braille. Saat ini, informasi dengan mudah dapat diperoleh melalui komputer yang dilengkapi program pembaca layar dan sambungan internet. Berbagai informasi di jutaan situs pada belantara internet dapat ditemukan hanya dengan memasukkan kata kunci pemcarian pada situs-situs mesin pencari seperti Google dan Yahoo. Semuanya bejalan realtime dan terbaharui dengan amat cepat. Ditambah dengan situs-situs jejaring osial seperti Facebook dan Twitter. Cukup register atau follow di beberapa situs berita nasional atau internasional, informasi akan hadir dengan sendirinya ke akun jejaring sosial pengguna. Semua fitur tersebut aksesibel dan dapat diakses oleh tunanetra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meski media internet membuka persaingan dengan banyak sumber informasi lain yang dengan mudah dapat diakses tunanetra, penulis yakin peranan majalah Gema Braille akan tetap penting. Pertama, majalah Gema Braille telah menjadi semacam icon dalam diri tunanetra Indonesia. Dibukanya pula akses pada majalah tersebut dalam media online mempermudah tunanetra yang mungkin belum terjangkau distribusi majalah fisik. Baik melalui komputer/laptop atau ponsel tunanetra dapat mengakses informasi dalam majalah Gema Braille dengan mudah. Selain itu, fakta penting yang membuat posisi majalah Gema Braille tak tergantikan adalah ragam informasi yang diberikan memang dibutuhkan oleh para tunanetra. Hal ini yang tentu tidak teredia secara khusus oleh media-media main stream yang ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Betapa penting peranan majalah Gema Braille ini pun turut penulis rasakan secara pribadi. Pengalaman penulis memang tak terlalu banyak dengan majalah Gema Braille. Ketika masih duduk di bangku SMP, penulis menemukan sebuah buku braille di kamar seorang teman. Penulis coba baca, dan ada perasaan luar biasa saat meraba judul buku itu “Gema Braille”. Perasaan ini makin membuncah saat jari-jari meraba lebih jauh dalam isi buku dan menemukan banyak informasi serta artikel-artikel yang menarik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu kata yang terlintas dalam bentuk penulis saat menjumpai majalah Gema Braille itu adalah “harapan”. Majalah itu seakan menjadi sebuah harapan bagi tunanetra yang amat miskin akses informasi. Dia menjadi harapan bagi penulis khususnya yang bukan tunanetra dari lahir bahwa menjadi seorang tunanetra bukan berarti kehilangan kesempatan untuk meluaskan wawasan. Terfikir bahwa akan amat indah jika seluruh tunanetra di negeri ini dapat mengakses majalah Gema Braille ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bayangkan, betapa banyak orang yang menjadi tunanetra di saat usia remaja atau dewasa. Tanpa adanya informasi dunia mereka akan tertutup dan menurunkan rasa percaya dirinya. Dalam majalah Gema Braille, mereka dapat menemukan kembali pintu menuju dunia. Mereka akan menemukan berbagai informasi bermanfaat dan wawasan bahwa banyak tunanetra lain selain dirinya yang mampu berprestasi dan hidup normal. Hidup akan menjadi tidak sempit lagi untuk mereka yang punya pengalaman serupa dengan penulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu, informasi yang ada di majalah Gema Braille harus dapat diakses seluas-luasnya. Bukan hanya bagi mereka yang baru belajar huruf braille, malinkan yang sudah dapat mengakses komputer bicara. Dengan hadirnya nanti majalah Gema Braille di situs internet, berbagai informasi mengenai ketunanetraan dapat diakses pada satu wadah. Apalagi jika majalah Gema Braille  turut memanfaatkan situs jejaring sosial. Tentu tiap update informasi yang disajikan dapat lebih cepat diketahui oleh pembaca tunanetra. Tak ada lagi alasan utnuk tunanetra menjadi miskin informasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mungkin hal yang dikhawatirkan dari perluasan cakupan majalah Gema Braille ke bentuk online adalah turunnya minat tunanetra untuk membaca braille. Menurut penulis, huruf braille tak akan pernah hilang dari diri tunanetra. Huruf braille adalah identitas bagi para tunanetra. Apabila orang awas punya aksara awas/cetak, maka tunanetra punya huruf braille sebagai aksaranya. Semaju apapun teknologi informasi, tak akan pernah menghilangkan fungsi huruf braille sebaai indikasi bahwa seorang tunanetra dapat membaca (kemampuan literasi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Harapan” tak pernah hilang dari majalah Gema Braille. Informasi yang disajikan mencerahkan kehidupan tunanetra. Penulis selalu berharap agar majalah ini tetap eksis dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Tentu amat bangga ketika dapat membaca isi majalah Gema Braille dengan marabanya di dunia maya.</p>
<blockquote><p>Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba esei &#8220;pengalamanku Bersama Majalah Gema Braille&#8221; dalam rangka HUT BPBI Abiyoso Cimahi ke-50 dan mendapatkan juara pertama.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/meraba-gema-braille-di-dunia-maya-1752/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memangkas Dahan Radikalisme</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/memangkas-dahan-radikalisme-1743</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/memangkas-dahan-radikalisme-1743#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 06:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[esei opini]]></category>
		<category><![CDATA[koran sindo]]></category>
		<category><![CDATA[suara mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dimasprasetyo.net/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[Proses bangsa ini menjadi Negara kesatuan bagaikan mukjizat dari Tuhan. Bagaimana tidak, ratusan suku bangsa dan bahasa yang tersebar dari penjuru Sabang sampai Merauke dapat berkonvensi untuk terbentuknya sebuah entitas bernama Indonesia. Perbedaan yang ada bukan menjadi pembeda. Melainkan kekayaan bangsa yang terjalin dalam naungan semboyan Bhineka Tunggal Ika. &#160; Namun, kini keajaiban itu kembali <a href="http://www.dimasprasetyo.net/memangkas-dahan-radikalisme-1743#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Proses bangsa ini menjadi Negara kesatuan bagaikan mukjizat dari Tuhan. Bagaimana tidak, ratusan suku bangsa dan bahasa yang tersebar dari penjuru Sabang sampai Merauke dapat berkonvensi untuk terbentuknya sebuah entitas bernama Indonesia. Perbedaan yang ada bukan menjadi pembeda. Melainkan kekayaan bangsa yang terjalin dalam naungan semboyan Bhineka Tunggal Ika.<span id="more-1743"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, kini keajaiban itu kembali diuji. Ada pihak-pihak yang tidak suka dengan kesatuan, dan lebih memilih untuk mengedepankan kepentingan kelompok. Peristiwa bom bunuh diri di Masjid Polresta Cirebon 15-04, seakan memberi pertanda bahwa radikalisme di negeri ini belum usai. Pasca dilumpuhkannya gembong-gembong teroris Nurdin M Top DKK pun masih menyisakan keresahan di hati masyarakat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut mantan kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Hendro Priono , factor penyebab radikalisme tidak terletak pada masalah ketidakadilan social atau kebijakan pemerintah. Radikalisme bersumber dari ideology yang terus diindoktrinasi kepada para pengikutnya memanfaatkan sisi lemah psikologis manusia. Apabila proses cuci otak ini telah terimplementasi, maka alas an-alasan yang dianggap oleh umum irasional, akan tetap diyakini oleh mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika diasosiasikan, radikalisme seperti dahan-dahan liar yang tak terurus dan harus dipangkas. Namun pemangkasan ini tidak dapat dilakukan secara instant, kemudian ditinggalkan. Perlu ada perawatan yang baik agar tiap ada potensi dahan menyimpang, dapat segera dipangkas. Dengan pemangkasan yang teratur, maka lambat laun dahan demi dahan yang tumbuh akan teratur pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tindak itoleran dan ekstrim bukanlah jati diri masyarakat Indonesia. Sejak zaman kuno, bangsa-bangsa di kepulauan nusantara dikenal toleran terhadap perbedaan. Berbagai pengaruh asing yang masuk dikembangkan sesuai dengan identitas asli Indonesia. Unsur local, pengaruh Hindu-Budha, Islam, dan modern berakulturasi untuk memperkaya kasanah budaya bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dahan-dahan ini harus dipangkas sejak dini. Mulai dari rumah, ajari anak-anak bangsa untuk terbiasa dengan perbedaan. Tanamkan pemahaman bahwa perbedaan itu indah dengan warna-warna yang saling melengkapi. Buat forum-forum inklusif yang melibatkan berbgai elemen dalam masyarakat. Hindari kegiatan-kegiatan tertutup yang dapat menyuburkan sikap eksklusivisme dan fanatic sempit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di luar semua itu, pemerintah pun harus lebih responsive dalam menyikapi gejala-gejala yang timbul dalam masyarakat. Pendekatan kepada kelompok-kelompok yang dianggap ekstrim harus mempertimbangkan sisi sosiologis dan psikologis. Dengarkan apa aspirasi mereka yang sejatinya masih bagian dari bangsa Indonesia. Namun apabila diperlukan, tindakan tegas tanpa kompromi patut diberikan bagi mereka yang telah meresahkan masyarakat. Dahan-dahan radikalisme itu harus dipangkas agar tidak terus tumbuh lebat. Semoga keindahan jiwa toleran bangsa ini tidak akan pernah tertutupi oleh dahan-dahan liar radikalisme.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dimas Prasetyo Muharam<br />
Mahasiswa Program Studi Inggris<br />
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*Pernah diterbitkan oleh kanal Kampus Okezone.com pada Selasa, 3 Mei 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/memangkas-dahan-radikalisme-1743/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampus: Mata Air Demokrasi Indonesia</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/kampus-mata-air-demokrasi-indonesia-1740</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/kampus-mata-air-demokrasi-indonesia-1740#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Apr 2011 03:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[koran sindo]]></category>
		<category><![CDATA[suara mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dimasprasetyo.net/?p=1740</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini masyarakat Indonesia mengalami krisis kepercayaan terhadap para pemimpin nasional. Pertikaian yang terjadi di eksekutif,legislatif,dan yudikatif secara implisit memaksa rakyat untuk menyesal karena ikut andil dalam mengantarkan mereka ke kursi kekuasaan. &#160; Aplikasi sistem demokrasi yang karutmarut dianggap tak mampu menyejahterakan rakyat. Krisis kepercayaan ini seakan mencapai klimaks pada wacana beberapa LSM yang ingin <a href="http://www.dimasprasetyo.net/kampus-mata-air-demokrasi-indonesia-1740#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini masyarakat Indonesia mengalami krisis kepercayaan terhadap para pemimpin nasional. Pertikaian yang terjadi di eksekutif,legislatif,dan yudikatif secara implisit memaksa rakyat untuk menyesal karena ikut andil dalam mengantarkan mereka ke kursi kekuasaan.<span id="more-1740"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aplikasi sistem demokrasi yang karutmarut dianggap tak mampu menyejahterakan rakyat. Krisis kepercayaan ini seakan mencapai klimaks pada wacana beberapa LSM yang ingin menuntut Ketua DPR Marzuki Alie atas sikapnya yang dianggap tidak aspiratif. Sikap apriori rakyat cenderung meningkat. Sebagian rakyat bahkan menganggap ada tidaknya wakil-wakil di Senayan itu tidak akan berpengaruh pada kehidupan rakyat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lantas, di mana letak kesalahan pada sistem demokrasi yang dianut ini? Jika ingin adil,tak dapat masalah ini hanya dilihat pada pucukpucuknya. Layaknya aliran sungai, kancah politik nasional itu hanyalah sebuah muara. Tiap debit air yang terkumpul di sana berasal dari mata air di mana etika berpolitik dipelajari dan dipraktikkan. Dalam hal ini,kampus atau perguruan tinggi menjadi mata air pembentukan karakter politik nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sana mahasiswa, sebagai generasi penerus, dilatih untuk hidup bernegara meski dalam skala yang lebih kecil. Pada lingkup kemahasiswaan dibentuk lembaga-lembaga yang mengindikasikan unsur-unsur dalam trias politika yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Apa pun yang terjadi di dalam kampus tentu akan menjadi cerminan masa depan perpolitikan dan demokrasi suatu negara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keadaan ini terlihat pada kecenderungan elite politik nasional yang dianggap tak memperjuangkan kepentingan rakyat di Parlemen, melainkan hanya kepentingan partai dan kelompok masing-masing. Tak jauh berbeda dengan politik kampus belakangan ini. Segregasi atau pengkotak-kotakkan mahasiswa yang dilatarbelakangi oleh ideologi masing-masing telah menempatkan mahasiswa pada kubu-kubu yang saling “bermusuhan”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sikap antipati antarkubu ini kemudian menghasilkan mahasiswa yang hanya sibuk dengan kelompoknya sendiri. Selain itu, black campaign dan politik pencitraan yang kerap terjadi pada saat pemilu pun dapat ditemui pada pemilihan raya (pemira) komponen eksekutif dan legislatif mahasiswa di kampus. Penampangan figur kandidat cenderung lebih ditonjolkan daripada visi dan misi yang ditawarkan. Saling telikung dan mencela kandidat/kelompok lain pun kerap dilakukan baik yang terbuka atau terselubung demi mendapatkan simpati pemilih mahasiswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prinsip-prinsip yang dipegang antarkubu sudah tak dapat dikenali lagi. Baik yang mengaku kiri atau kanan,semuanya menganggap diri selalu lebih benar dari yang lain. Hal ini amat ironis mengingat para elit mahasiswa ini kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin nasional. Apabila proses yang ditempuh saat masih berada di kampus sudah tidak idealis,tentu tak akan ada ubahnya dengan di tingkat yang lebih tinggi nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karena itu, perbaikan demokrasi nasional ini perlu dimulai dari taraf kampus. Mahasiswa perlu melihat kembali esensi-esensi dasar sebagai seorang mahasiswa yang idealis. Letakkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Dari mata air demokrasi ini,wajah masa depan republik ini dipertaruhkan.?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>DIMAS PRASETYO MUHARAM<br />
Mahasiswa Program Studi Inggris<br />
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,<br />
Universitas Indonesia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*Diterbitkan pada kolom Suara Mahasiswa Koran Sindo edisi Sabtu, 23 April 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/kampus-mata-air-demokrasi-indonesia-1740/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERANG MEDIA DAN KEPENTINGAN ANTARA METRO TV- TV ONE</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/perang-media-dan-kepentingan-antara-metro-tv-tv-one-1716</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/perang-media-dan-kepentingan-antara-metro-tv-tv-one-1716#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 23:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paper]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa dan kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[bias media]]></category>
		<category><![CDATA[hegemoni media]]></category>
		<category><![CDATA[semester 7]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dimasprasetyo.net/?p=1716</guid>
		<description><![CDATA[(Tendensitas Kepemilikan dan Hegemoni Media terhadap Bias Isi Pemberitaan) Pendahuluan Media menjadi bagian yang teramat penting dalam kehidupan manusia saat ini. Akselerasi hidup yang menuntut manusia untuk harus serba cepat, berakibat pada arus informasi yang diminta pun semakin deras. Terlebih lagi di era segala sesuatu serba on-line seperti belakangan ini. Media on-line tidak lagi hanya <a href="http://www.dimasprasetyo.net/perang-media-dan-kepentingan-antara-metro-tv-tv-one-1716#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Tendensitas Kepemilikan dan Hegemoni Media terhadap Bias Isi Pemberitaan)</strong></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Media menjadi bagian yang teramat penting dalam kehidupan manusia saat ini. Akselerasi hidup yang menuntut manusia untuk harus serba cepat, berakibat pada arus informasi yang diminta pun semakin deras. Terlebih lagi di era segala sesuatu serba on-line seperti belakangan ini. Media on-line tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi saja. Media pemberitaan saat ini telah memanfaatkannya pula untuk mempercepat arus informasi dari para wartawan langsung ke khalayak. Tiap ada peristiwa yang baru terjadi, informasinya akan segera diterbitkan di media online. Sedangkan jika hanya mengandalkan media cetak seperti koran atau majalah, isi berita tersebut baru akan diketahui khalayak keesokan harinya. Media jejaring sosial (Social  Network) seperti Facebook dan twitter tak luput dari bidikan media pemberitaan sebagai sarana pewartaannya.<span id="more-1716"></span></p>
<p>Melihat perkembangan ini, media massa amat riskan untuk ditunggangi oleh kepentingan individu, kelompok, atau golongan tertentu. Seperti yang diutarakan oleh Marxian bahwa media massa berpotensi untuk menyebarkan ideologi dominan. Melalui kekuatannya yang amat besar untuk mempengaruhi opini masyarakat, akan amat terselubung ketika ada muatan-muatan tertentu yang berusaha disisipkan dalam pemberitaan sebuah media kepada masyarakat. Seperti apa yang mulai terjadi di Indonesia pasca reformasi ini. Beberapa media besar dikuasai oleh kepemilikan tertentu yang memeiliki kedekatan dengan pihak pemerintah atau politik oposisi. Surya Paloh, dengan Metro TV dan Harian Media Indonesia, dan Abu Rizal Bakrie, dengan TV One dan Antevenya, adalah dua seteru yang amat memanfaatkan media pewartaan sebagai sarana pembentukan opini di dalam masyarakat. Di dalam berita-berita yang diterbitkan oleh Metro TV dan TV One terutama, ada tendensi bagaimana keterpihakan dua media itu pada pemiliknya masing-masing. Dalam tulisan ini, akan ditelaah lebih jauh bagaimana pengaruh kepemilikan terhadap isi pemberitaan yang diterbitkan oleh Metro TV beserta media grup dan TV One bersama Bakrie grupnya. Hingga dapat dilihat mengenai hegemoni media yang berusaha dibangun melalui kekuatan media massa sebagai alat pembentuk opini publik.</p>
<p><strong>Globalisasi 3.0</strong></p>
<p>Menurut beberapa ahli, dunia saat ini memasuki era globalisasi 3.0. Hal ini disebutkan oleh Thomas L. Friedman, dalam bukunya yang berjudul <em>The world is Flat</em>, dengan menitikberatkan penyebaran arus informasi pada individu-individu manusia sendiri. Ketika pada masa globalisasi 1.0, peradaban digerakan oleh kerajaan-kerajaan besar seperti Britania Raya dengan penguasaan terhadap samuderanya yang luas. Kemudian pada era globalisasi 2.0, identitas kemajuan zaman ditentukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Dimana mereka memiliki peranan amat besar pada arus uang dan barang yang beredar di dunia. Pada masa globalisasi 3.0 ini, individu memiliki peran yang amat besar. Berkembangnya teknologi komputer pribadi (Personal Computer) yang amat luas beserta jaringan internet, membuat individu dapat mengidentifikasi dirinya sendiri dan berhubungan dengan dunia atas identitas dirinya sendiri pula.</p>
<p>Dalam era ini, internet berkembang amat pesat dan semakin jauh menjadi kebutuhan wajib manusia. Melihat efisiensi dan kehandalan internet, tak heran sarana komunikasi ini menjadi amat fital di masa sekarang. Seseorang saat ini bukan lagi hanya menunggu informasi melainkan secara aktif mencari informasi itu sendiri. Individu memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi yang bisa didapatkan dari sumber manapun. Berjuta situs tersebar di belantara internet, tiap situs menyediakan informasi yang sesuai dengan tujuan.</p>
<p>Selain itu, masih tak dapat dipungkiri peranan media elektronik lain seperti televisi dan radio. Dua media itu masih cukup penting dalam takaran sebagai media penyampai informasi publik. Sedangkan untuk media cetak seperti koran, mereka saat ini memanfaatkan perkembangan media internet sebagai media pendukungnya. Tak sedikit media massa cetak saat ini yang selain tetap menerbitkan edisi cetak, mereka pun membuat versi digital dengan menerbitkannya di website resmi mereka. Tiap salinan dari berita atau artikel di media cetak tersebut, akan dapat diakses pula secara bebas melalui media website. Bahkan saat ini, proses penyebaran informasi ini lebih cepat dengan bantuan media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.</p>
<p>Hal ini merupakan sebuah revolusi besar di dunia media. Dimana informasi semakin dekat dan amat mudah diakses oleh masyarakat. Bahkan bukan hanya mudah didapatkan, berita itu seakan-akan memang menghampiri masyarakat dan “memaksa” untuk dikonsumsi. Pasar media menjadi semakin luas. Pada beberapa tahun ke belakang, hanya mereka yang membutuhkan informasi saja yang rela berlangganan atau membeli koran di loper terdekat untuk kemudian membacanya di pagi hari. Bagi mereka yang tak terlalu berminat, maka akan tertinggal informasi. Berbeda dengan masa kini. Setelah munculnya televisi, proses informasi semakin cepat ketika seseorang tak perlu lagi membeli koran. Orang hanya cukup mengaktifkan pesawat televisi, dan memilih program berita yang ada. Namun kini, ritual tersebut menjadi lebih mudah lagi. Tanpa perlu dicari, informasi dapat datang dengan sendirinya melalui berlangganan <em>feed rss</em> di media-media jejaring sosial.</p>
<p>Fakta ini menggiring masyarakat saat ini pada keadaan dimana informasi amat berpengaruh dalam kehidupan. Melalui kemampuannya untuk membentuk opini publik, media dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi, politik, atau pun sosial budaya. Khususnya di Indonesia, pasca reformasi tahun 1998, telah membuka pintu liberalisasi pers seluas-luasnya. Tiap warga negara dilindungi hak-haknya untuk mengungkapkan pendapat. Tak ada lagi pembredelan terhadap media massa yang terindikasi melawan kehendak pemerintah. Ketika masa pra-reformasi kekuatan eksekutif amat kuat, kini kendali kebijakan amat dipengaruhi oleh kehendak dan opini publik.</p>
<p>Masih diingat kasus kriminalisasi dua pimpinan KPK, Bibit-Chandra, yang amat marak di media saat itu. Kasus yang kemudian meluas dengan sebutan “Cicak vs Buaya”, yang secara implisif menyimbolkan pertarungan antara KPK dengan Polri, mendapat perhatian amat besar dari masyarakat. Dimotori oleh media massa – media massa nasional yang mengangkat topik ini ke permukaan, melalui dunia jejaring sosial, masyarakat marak mendiskusikannya. Di Facebook saja, muncul beberapa group yang isinya memberikan dukungan kepada Bibit-Chandra dalam menghadapi kriminalisasi yang coba dilakukan terhadap KPK. Arus dukungan rakyat semakin besar, hingga pemerintah pun merasa terdesak, dan meminta kasus Bibit-Chandra untuk dihentikan pengusutannya.</p>
<p>Di satu sisi, kemajuan ini amat luar biasa. Rakyat kini memiliki kekuataan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sesuatu yang dianggap menyalahi nilai-nilai keadilan, dapat diperjuangkan melalui media massa untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan pemerintah. Ada fungsi media sebagai alat kontrol sosial yang mulai terealisasi di sini.</p>
<p>Namun, hal ini akan amat berbahaya ketika pemberitaan disisipi oleh kepentingan atau maksud-maksud yang menyalahi prinsip netralitas dalam pers. Seperti kasus pemecetan wartawan kompas dan detik pada tahun 2010 ini(Analisa 18-12). Kedua orang wartawan itu disangkutpautkan dengan insider trading pada penjualan saham perdana PT. Krakatau Steel. Dengan kapasitasnya sebagai wartawan, mereka membuat berita negatif terkait dengan PT. Krakatau Steel. Efek dari pemberitaan negatif ini adalah nilai saham yang jatuh dari penjualan saham perdana perusahaan BUMN tersebut. Di sini dapat diidentifikasi bagaimana pemberitaan bias yang disengaja oleh wartawan, dapat berpengaruh besar bagi pembentukan opini masyarakat. Ketika kepercayaan masyarakat turun akibat pemberitaan negatif tersebut, maka menyebabkan harga saham turun yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang.</p>
<p>Lebih jauh, efek negatif ini pun bisa terjadi ketika pemberitaan yang ada, dimanfaatkan untuk urusan partai seperti menonjolkan figur tertentu yang notabenya dia adalah pemilik dari media tersebut. Dengan demikian, hal ini dapat berujung pada hegemoni media yang akan melanggengkan kekuasaan pihak tertentu saja.</p>
<p><strong>Hegemoni Media dan Kekuasaan</strong></p>
<p>Dalam pandangan mazhab kritis, terutama dalam studi-studi yang dikembangkan oleh Centre for Contemporary Cultural studies, Birmingham University, media massa selalu dirasakan sebagai alat yang “powerfull” dan ada ideologi dominan di dalamnya. Hal ini yang disebut oleh para penggiat Cultural studies sebagai hegemoni media. Teori hegemoni ini dicetuskan oleh Gramsci yang merujuk pada kekuasaan dan praktis. Hegemoni merujuk pada upaya pelanggengan kekuasaan yang dilakukan oleh kelompok yang berkuasa. Di sini, institusi media memberikan sebuah fungsi hegemoni yang secara terus menerus memproduksi sebuah ideologi yang kohesif (ideologi yang meresap), satu perangkat nilai-nilai common-sense dan norma norma yang memproduksi dan mengesahkan dominasi struktur sosial tertentu yang mana kelas–kelas sub-ordinasi berpartisipasi di dalam dominasi mereka itu. Bahkan lebih lanjut, Gitlin mendefenisikan hegemoni sebagai “rekayasa sistematik” kepatuhan massa untuk memapankan kekuasaan kelompok yang berkuasa.</p>
<p>Stuart Hall berpendapat Media massa cenderung mengukuhkan ideologi dominan untuk menancapkan kuku kekuasaannya melaui Hegemoni. Melalui media massa juga menyediakan frame work bagi berkembangnya budaya massa. Melalui media massa pula kelompok dominan terus-menerus menggerogoti, melemahkan dan meniadakan potensi tanding dari pihak-pihak yang dikuasainya. Sedangkan menurut Mc. Luhan seorang pengkritik media ia mengatakan Media massa bukan hanya sebagai media pengirim pesan tapi juga mempengaruhi nilai-nilai budaya dan membuat stereotype mengenai gender, ras dan etnik, memiliki kontribusi terhadap pengalaman komunikasi dan bisa saja memonopoli dunia pemikiran seseorang.</p>
<p>Oleh karena itu, selama media masih dikuasai oleh ideologi dominan, mereka akan menggambarkan kelompok oposisi sebagai kaum marginal. bagi Hall dan koleganya, interpretasi teks media selalu muncul di dalam suatu pertarungan dari kontrol ideologis. Ronald Lembo dan Kenneth Tucker menggambarkan proses tersebut sebagai “arena kompetisi di mana individu atau kelompok mengekspresikan kepentingan yang berlawanan.<a href="#_ftn1" class="broken_link">[1]</a></p>
<p>Hegemoni media ini di Indonesia pernah dipraktikan semasa pemerintahan orde baru. Oleh pemerintah, media massa dijadikan sebagai alat propaganda dan pencitraan pemerintah. Sebelum tahun 1990-an, televisi di Indonesia hanya ada satu. Yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang dikelola oleh pemerintah. Seluruh pemberitaan yang ada diawasi oleh pemerintah. Tak ada kritik atau pemberitaan yang menyudutkan pemerintah saat itu. Semua dianggap baik-baik saja demi itikat untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional.</p>
<p>Sebaliknya, untuk media swasta, seperti koran dan majalah, memerlukan izin yang amat ketat untuk dapat terbit di Indonesia. Tiap ada media yang isi pemberitaannya dianggap suversif atau membahayakan posisi pemerintah, segera media itu akan dibredel, dan pemimpin atau pengurusnya terancam dijebloskan ke penjara. Oleh karena itu, meski media swasta, saat itu mayoritas media massa hanya memberitakan hal-hal yang disetujui saja oleh pemerintah.</p>
<p>Dari sini, terlihat bagaimana media massa benar-benar dimanfaatkan sebagai alat hegemoni rezim yang sedang berkuasa. Dengan isi pemberitaan yang diawasi ketat, masyarakat dibuat percaya bahwa keadaan di Indonesia adalah benar-benar stabil. Tak ada korupsi, penyelewengan, atau hal-hal yang mendiskreditkan pemerintah. Pemerintah, khususnya eksekutif, benar-benar memiliki posisi yang kuat. Sehingga di era reformasi ini, masih kerap ditemui ada masyarakat yang selalu beranggapan bahwa masa orde baru itu lebih baik dari era reformasi. Harga-harga murah, keamanan terjamin, dan sebagainya. Tak lain, konsepsi yang tertanam di mayoritas masyarakat ini adalah hasil dari hegemoni media yang berhasil dilancarkan eksekutif orde baru.</p>
<p>Lantas, apakah di era reformasi, ketika kebebasan pers telah dibuka seluas-luasnya, masih ada hegemoni media? Untuk menjawab semua itu, dapat dilihat dari fakta yang berada di belakang tiap media massa nasional Indonesia.</p>
<p>Di Indonesia, semenjak reformasi bergulir, mulai dikenalnya istilah konglomerasi media. Istilah ini mengacu pada kecenderungan beberapa media untuk saling bergabung di bawah kepemilikan satu orang atau kelompok. Beberapa contoh adalah bergabungnya dua stasiun televisi Trans TV dan TV 7 (yang kemudian berubah nama jadi Trans 7) di bawah naungan Trans Corp pimpinan Chairul Tanjung. Selain itu, kita mengenal pula Abu Rizal Bakrie, sebagai pimpinan dari Bakrie Group, yang menguasai stasiun televisi Anteve dan TV One. Ada pula yang telah bertahan cukup lama, Hary Tanoesoedibyo, dengan penguasaannya atas RCTI, Global TV, MNC TV, koran Seputar Indonesia, Trijaya FM, majalah Trust, dan situs berita on-line okezone.com. Terakhir, yang cukup populer pula, ada Media group yang menaungi Metro TV dan harian Media Indonesia dengan pimpinan utama Surya Paloh.</p>
<p>Dilihat sekilas, tak ada yang bermasalah dengan kepemilikan beberapa media massa di tangan satu orang. Dalam dunia bisnis, konglomerasi biasa terjadi untuk menghimpun kekuatan ekonomi yang lebih besar demi menghadapi saingan. Namun, dalam ranah pers, hal ini bisa jadi sangat berbahaya.</p>
<p>Pertama, penguasaan beberapa media oleh satu orang, dapat mengakibatkan isi pemberitaan yang monotone. Seperti pada media massa yang dikuasai oleh Hary Tanoesoedibyo. Dalam mewartakan sebuah issu, akan tercipta sudut pandang atau perspektif yang sama antara RCTI, MNC TV, harian Seputar Indonesia, atau Trijaya FM misalnya. Sebab dalam praktiknya, tiap media massa yang terlingkup dalam satu jaringan tersebut, memiliki visi dan kepentingan yang sama pula. Efek dari keseragaman ini tentu akan berakibat para masyarakat yang dirugikan. Meski berbeda media, tapi isi dan nada dalam berita yang disampaikan sama. Lebih jauh, bayangkan saja jika semakin banyak media yang dimiliki oleh satu orang yang sama. Maka isi pemberitaan akan semakin tidak variatif dan tak ada pertarungan opini yang terjadi.</p>
<p>Kedua, adalah potensi media sebagai alat politik pemiliknya. Ketika masa kampanye misalnya, isi pemberitaan yang disajikan cenderung akan terfokus untuk menonjolkan satu partai yang didukung pula oleh pemilik media massa tersebut. Sebaliknya, media massa itu dapat pula untuk menjatuhkan partai lain yang memang menjadi musuh politiknya. Hal ini seperti apa yang menjadi kecurigaan banyak orang pada Metro TV di pemilu 2009. Ada anggapan yang menilai Metro TV kurang berimbang dalam memberitakan Pemilu 2009. Pemberitaan condong kepada pencitraan positif partai Golkar yang Surya Paloh sebagai kader di dalamnya. Lebih jauh, media massa pun dapat pula dijadikan sebagai alat untuk terus menyerang pemerintah. Meski fungsi dasar media massa memang untuk kontrol sosial pemerintah, namun pemberitaan yang bias dan kepentingan pemilik yang ikut disisipkan, akan menjadikan pemberitaan yang diterbitkan tak berimbang lagi.</p>
<p>Ketiga, adalah kecenderungan media sebagai alat pencitraan dan pembenaran bagi pemiliknya. Tendensi ini amat jelas terlihat dengan pemberitaan yang dilakukan oleh TV One kepada kasus semburan lumpur di Sidoharjo. Di media massa lain, mayoritas akan mengatakan kasus tersebut sebagai “Lumpur Lapindo”. Sesuai dengan nama perusahaan yang dimiliki oleh Bakrie Group. Sedangkan oleh TV One, pemberitaan kasus tersebut selalu disebutkan dengan “Lumpur Sidorharjo” tanpa menyinggung nama perusahaan yang dipimpin pula oleh pemilik TV One tersebut. Dalam isi pemberitaannya, TV One juga selalu mengedepankan bahwa kasus tersebut disebabkan oleh fenomena alam seperti Gempa Yogya 2005, bukan human error seperti media massa lain.</p>
<p>Selain itu, media massa pun digunakan pula untuk sarana <em>exposer</em> tokoh yang menjadi pemiliknya. Seperti apa yang ada di Metro TV. Ketika ada pemberitaan yang seorang Surya Paloh berada di sana, akan ada waktu khusus yang menyiarkan pidato Surya Paloh secara panjang lebar. Begitu pula yang dilakukan oleh TV One. Ketika Abu Rizal Bakrie masuk dalam pemberitaan, maka akan ada sesi eksklusif yang menayangkan seluruh pembicaraan dari ketua Partai Golkar tersebut.</p>
<p>Dari analisa di atas, terlihat bagaimana berbahayanya media massa ketika dijadikan alat megemoni oleh pihak-pihak tertentu. Di Amerika Serikat, hal ini pun turut terjadi. Di negara yang mengaku paling demokratis ini, terjadi pula hegemoni media yang dikuasai oleh para konglomerat dengan berbagai media massa di bawah kendalinya. Terdapatlah lima besar penguasa media di Amerika Serikat seperti Time Warner, Disney, Murdoch’s News, Viacom, dan Bertelsmann. Mereka saling bersaing dan disinyalir pula membuat pemberitaan bias demi kepentingan pemiliknya yang menyalahi nilai-nilai demokrasi Amerika Serikat.</p>
<p><strong>Persaingan antara Metro TV dan TV One</strong></p>
<p>Saat ini, Metro TV dan TV One adalah dua stasiun TV terdepan di Indonesia dalam penyajian berita. Dua stasiun tersebut menitikberatkan publikasinya pada konten berita. Meski Metro TV sudah berdiri sejak tahun 2000 dan secara konsisten menayangkan konten berita, TV One yang sejak tahun 2008 berubah nama dari La TV, merupakan pesaing yang cukup kuat. Dengan sajian acara yang cukup kreatif, TV One mendapatkan porsi tersendiri di hati masyarakat. Ketika ingin melihat berita terkini, jika bukan Metro TV, ya TV One jadi pilihannya.</p>
<p>Selama masa kampanye 2009, antara Metro TV dan TV One terjalin hubungan yang baik. Mengingat bahwa Surya Paloh dan Abu Rizal Bakrie sama-sama kader partai Golkar, mereka sepakat untuk saling mendukung agar partai mereka mendapat suara sebanyak-banyaknya di Pemilu 2009. Namun, sejak pemilihan ketua umum Partai Golkar yang baru untuk menggantikan Jusuf Kala Oktober 2009, mulai terjadi persaingan antar kedua pengusaha tersebut.</p>
<p>Terpilihnya Abu Rizal Bakrie atau Ical sebagai ketua umum Partai Golkar, seakan menabuh genderang perang antar Surya Paloh dan dirinya. Pertarungan antar media milik mereka berdua pun dimulai. Hal ini terlihat di antaranya pada kasus Lapindo. Pada pemberitaan yang diterbitkan Media Group (termasuk di dalamnya Metro TV dan harian Media Indonesia), kasus tersebut selalu disebutkan dengan istilah “lumpur Lapindo”. Penggunaan kata tersebut tak lain adalah untuk memberikan penekanan bahwa bencana itu tertitik berat pada human error perusahaan Lapindo Brantas milik Bakrie Group. Gencar sekali pemberitaan mengenai ini dan terus menonjolkan peran perusahaan Lapindo sebagai “penyebab bencana”.</p>
<p>Sedangkan di TV One, pemberitaan masalah ini dilakukan dengan lebih hati-hati. Media ini seakan-akan ingin mati-matian membela pemiliknya. Seperti dalam penggunaan istilah. Pada kasus yang sama, TV One menyebutnya sebagai “lumpur Sidoharjo”. Bukannya mengangkat nama Lapindo yang merupakan salah satu anak perusahaan Bakrie Group. Mereka ingin memberikan kesan bahwa itu adalah bencana alam dan bukan karena kesalahan sebuah perusahaan yang bernama Lapindo tersebut. Lebih jauh, TV One pun acap kali menggunakan pandangan seorang ahli yang mengungkapkan hubungan antar gempa di Yogyakarta tahun 2005 dengan semburan lumpur di Sidoharjo tersebut.</p>
<p>Dalam kasus foto mirip Gayus yang tertangkap kamera sedang menonton pertandingan Tennis di Bali akhir tahun 2010 kemarin pun kedua media tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda. Pada kasus tersebut, disebut-sebut Gayus hendak menemui Abu Rizal Bakrie yang kebetulan sedang berada di Bali hari itu. Oleh Metro TV, selalu diungkapkan istilah foto mirip Gayus dan dugaan-dugaan bahwa pada saat yang sama, Ical berada pula untuk menonton pertandingan itu di sana. Sedangkan oleh TV One, kekuataan berita bahwa foto tersebut benarlah Gayus coba dilemahkan dengan menyebutkan bahwa fotografer Kompas yang mengambil gambar-gambar tersebut bukanlah wartawan yang biasa meliput berita-berita politik. Oleh TV One, hal tersebut dijadikan strategi agar pemirsa tidak terbawa opininya bahwa orang yang ada di foto tersebut benar-benar Gayus Tambunan. Selain itu, TV One pun tak mau menduga-duga apakah benar Gayus bermaksud untuk menemui Abu Rizal Bakrie di sana. Oleh Vinsencius Sitepu (2010)<a href="#_ftn2" class="broken_link">[2]</a>, diangkat bagaimana TV One malah mempertanyakan mengapa untuk menemui Ical, Gayus perlu jauh-jauh ke Bali? Sedangkan percakapan bisa dilakukan di Jakarta atau telepon.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Hegemoni media pada media massa di Indonesia tak terlepas dari tujuan politik dan kepentingan tertentu. Apabila semasa Orde Baru media massa digunakan sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan pemerintah, di era reformasi ini media massa dipegang oleh konglomerasi swasta yang memiliki tujuan yang lebih kompleks. Selain didasari oleh faktor ekonomis, untuk efisiensi dan keuntungan yang maksimal, media massa digunakan pula sebagai pemulus kendaraan politik ke posisi tertentu.</p>
<p>Dalam maksud ini, ada usaha melalui media massa yang dimiliki, untuk membangun opini di masyarakat, yang kemudian akan berdampak balik pada pemenuhan kebutuhan politisnya. Seperti bias dalam pemberitaan sebuah peristiwa, hal tersebut riskan disisipi kepentingan tertentu yang kemudian mendapatkan tanggapan dari masyarakat apakah pro atau kontra.</p>
<p>Seperti apa yang terjadi antara Metro TV dan TV One dalam pemberitaannya. Sesama televisi yang titik utama program-programnya adalah <em>news</em> atau berita, kedua media tersebut memiliki tendensitas berbeda yang disesuaikan dengan kepemilikan masing-masing. Tiap media berusaha melindungi dan mengedepankan tokoh yang berada di belakangnya melalui pemberitaan-pemberitaan yang diatur sedemikian rupa sudut pandangnya untuk kemudian  disajikan ke masyarakat.</p>
<p>Oleh karena itu, sebagai masyarakat, perlu jeli dalam melihat berita atau wacana yang disajikan oleh media massa. Mengingat fakta bahwa media – media massa nasional Indonesia tengah dikuasai oleh para konglomerat media, konten berita yang disajikan tak dapat ditelan mentah-mentah begitu saja.</p>
<p><strong>Daftar Referensi</strong></p>
<p>“Kepemilikan Media dan Bias Berita”. http://vinsensius.info/?p=255 [Senin, 27 Desember 2010 pukul 08:00 WIB]</p>
<p>“Konglomerasi Media Massa sebagai Ajang Hegemoni Pembentukan Opini Publik”. http://pangerankatak.blogspot.com/2008/04/konglomerasi-media-massa-sebagai-ajang.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 09:00 WIB]</p>
<p>“Komunikasi Politik” http://setabasri01.blogspot.com/2009/02/komunikasi-politik.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 09:30 WIB]</p>
<p>“Perang Representasi di Isu Gayus-Ical”. http://vinsensius.info/?p=56 [Senin, 27 Desember 2010 pukul 09:45 WIB]</p>
<p>“Mengerucutnya Kepemilikan Media Televisi di Indonesia”. http://nurulwibawacahya.blogspot.com/2007/01/mengerucutnya-kepemilikan-media.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 10:00 WIB]</p>
<p>“Konsep Hegemoni”. http://veggy.wetpaint.com/page/Konsep+Hegemoni [Senin, 27 Desember 2010 pukul 10:15 WIB]</p>
<p>“Media di Indonesia, Intervensi Modal, Kepemilikan, dan Regulasi dalam Pemberitaannya”. http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2010/06/16/media-di-indonesia-intervensi-modal-dan-kepemilikan-dalam-regulasi-dan-pemberitaannya/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 11:00 WIB]</p>
<p>“Konglomerasi Media, Kepemilikan Silang, Pemicu Monopoli Pemberitaan”. http://qnoyzone.blogdetik.com/index.php/2010/09/22/opini-konglomerasi-media-kepemilikan-silang-pemicu-monopoli-pemberitaan/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 11:30 WIB]</p>
<p>“Pentingnya Regulasi terhadap Monopoli dan Konglomerasi Media”. http://bincangmedia.wordpress.com/2010/05/31/pentingnya-regulasi-atas-konglomerasi-dan-monopoli-kepemilikian-media/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 12:00 WIB]</p>
<p>“TV One”. http://id.wikipedia.org/wiki/TvOne [Senin, 27 Desember 2010 pukul 13:00 WIB]</p>
<p>“Metro TV”. http://id.wikipedia.org/wiki/MetroTV [Senin, 27 Desember 2010 pukul 13:00 WIB]</p>
<p>“Globalisasi 3.0”. https://rahard.wordpress.com/2005/12/27/globalisasi-30/ [Senin, 27 Desember 2010 pukul 15:00 WIB]</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1" class="broken_link">[1]</a> Teori dan konsep ini dikutip dari http://pangerankatak.blogspot.com/2008/04/konglomerasi-media-massa-sebagai-ajang.html [Senin, 27 Desember 2010 pukul 08:00 WIB]</p>
<p><a href="#_ftnref2" class="broken_link">[2]</a> Lihat blog pribadinya di http://vinsensius.info/?p=56</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/perang-media-dan-kepentingan-antara-metro-tv-tv-one-1716/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anger (a poem)</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/anger-49</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/anger-49#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 17:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Assignments]]></category>
		<category><![CDATA[free writing]]></category>
		<category><![CDATA[semester 3]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dpm.web.id/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Nobody could make me see, sleep, and sweep I stand here, face the cruel age Lay under the shattered sky Waiting for the falling stars. You came here, and took my core Make me limp in the dimmy dark Nobody could rise me up In the sadness, through out the day Someone who I want <a href="http://www.dimasprasetyo.net/anger-49#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nobody could make me see, sleep, and sweep<br />
I stand here, face the cruel age<br />
Lay under the shattered sky<br />
Waiting for the falling stars.<br />
<span id="more-49"></span><br />
You came here, and took my core<br />
Make me limp in the dimmy dark<br />
Nobody could rise me up<br />
In the sadness, through out the day</p>
<p>Someone who I want most<br />
To kneel here and kiss my feet<br />
I’m sure god would give his pardon to you<br />
If only i die in other day</p>
<p>Commentary…<br />
It just ashort poem, but has deep meaning inside. Keep the good work! (nadia Nurfadila)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/anger-49/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Four Precise strategies to be a good Boyfriend</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/four-precise-strategies-to-be-a-good-boyfriend-37</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/four-precise-strategies-to-be-a-good-boyfriend-37#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 17:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Assignments]]></category>
		<category><![CDATA[free writing]]></category>
		<category><![CDATA[semester 3]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dpm.web.id/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[In a relationship between two lovers, it is needed many things to make it longer and enjoyable. In fact, we can not stick in our idealist to love somebody. There are many things in common which our relation longer is probably out of our principle, but effective in make. In this piece of writing, you <a href="http://www.dimasprasetyo.net/four-precise-strategies-to-be-a-good-boyfriend-37#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In a relationship between two lovers, it is needed many things to make it longer and enjoyable. In fact, we can not stick in our idealist to love somebody. There are many things in common which our relation longer is probably out of our principle, but effective in make. In this piece of writing, you will see some tricks which are very useful for gentleman who is having a girlfriend.<br />
<span id="more-37"></span><br />
First, never make your girlfriend in under pressure condition. Sometimes, girls expect her lover to be a good guider for her. Actually, it’s just a courtesy. She doesn’t want to be managed by his lover. Just get free her to do anything, as long as it’s not dangerous for her. For example, it’s not needed to ask her ‘where are you now?’ or ‘what are you doing?’ Basically, girls have ability to be good in lying. She can say something instead of doing another thing. The solution, just trust your girlfriend whatever she said, weather you have known that she is lying.</p>
<p>The second tricks is giving her freedom to walking with everyone, include a guy. The loyalty of a girl is not better than a boy. Perhaps a girl forbids her lover to walk with another girl, but in fact she never applies the same rule to herself. Furthermore, when you knew or see directly your girl beside a guy, she just says ‘he is just my ordinary friend, it doesn’t matter anyway’. That’s her reason. In contrary, when you are walking with a girl, she would be very angry. That is the egoism of woman kind. The solution just let your girlfriend walk with everyone, and if you want to have ideal with another girl, just keep in secret.</p>
<p>The third tricks is just ignore when your girlfriend telling about another guy. Sometimes, it’s needed to show your jealousy in front of your girl. It will make her sure that you really love her, but you don’t have to do that too many. Usually, your girlfriend tells about everything. The point, one of job to be love is a rubbish bin for your lover. All stories have to told, and have to be listened either. All you have to do just listen to her, and give a little response like ‘yes’, ‘oh really?’, and ‘good’. Think positively that your lover just want to make you angry. If you are not angry, she will be very annoyed and be boring to make you jealous eventually.</p>
<p>The last thing but not the least exactly, is never ask your girlfriend to do something, and do not do another’s. Girl hates to be arranged. Perhaps when want to do something which will hurt your feeling, she bid permission from you. The word that she want to hear is ‘no!’ and you will be angry finally. In the cat, that’s the wrong way to solve that event. Just give her freedom to do anything, without shows any emotion. Automatically, she will realize her mistake, and feel guilty when doing that thing. Usually when you forbid that thing, she will be motivated to break the rule and do another more.</p>
<p>I believe, if you do all the tonics, you will be a good boyfriend. Your life will be so happy, because the aim of relationship is to amuse each other. Just take it easy if your girlfriend cheat on you, just think that you are the best for her, and she will be back to you. Sure that is only you who can give her satisfaction. Slow down bro, take it easy just let it flows. Just let your love flow as usual, do not do something stupid.</p>
<p>Commands<br />
Dimas, your free writing is quite simple but it so meaningful to me. Yes I agree with you that a girl supposed to be treated like you have mention above. Over all, it is a good free writing and easy to understand. (prastirama).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/four-precise-strategies-to-be-a-good-boyfriend-37/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untitled</title>
		<link>http://www.dimasprasetyo.net/untitled-28</link>
		<comments>http://www.dimasprasetyo.net/untitled-28#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 05:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Assignments]]></category>
		<category><![CDATA[free writing]]></category>
		<category><![CDATA[semester 3]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dpm.web.id/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[When I close my eyes, I definitely can see you there Although the sharpest knife slice my heart, I absolutely can feel you are here She came at the grey ray Feels my pain, with her lovely touch In a silent of the remnant cry She whispered, ‘nobody can hurt you anymore’ I’m like a <a href="http://www.dimasprasetyo.net/untitled-28#more-'" class="more-link">more »</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>When I close my eyes,<br />
I definitely can see you there<br />
Although the sharpest knife slice my heart,<br />
I absolutely can feel you are here<br />
<span id="more-28"></span><br />
She came at the grey ray<br />
Feels my pain, with her lovely touch<br />
In a silent of the remnant cry<br />
She whispered, ‘nobody can hurt you anymore’</p>
<p>I’m like a Prince in the winter land<br />
There are a mount of snow wherever I see<br />
But one part of my self that will never cold,<br />
Is my heart that is devoted to the perfect lee.</p>
<p>Commentary…<br />
Hi Dimas. I don’t know that you are such a poetic person.<br />
I like the way you choose your words to express your feelings.<br />
I also like the figurative language you use such as the simile, the personification, etc.<br />
Keep up the good work, Dim!<br />
- Lissa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dimasprasetyo.net/untitled-28/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

