Dengan Komputer, Tunanetra Melihat Dunia | Dimas Prasetyo

Dengan Komputer, Tunanetra Melihat Dunia

February 5th, 2011 read 31 times 0 Comments

Kira-kira tahun 2002, saya mengikuti program kursus Microsoft Office Word dan Excel. Komputer yang digunakan masih bertipe pentium II. Jadi kecepatan tidak terlalu baik tapi sudah cukup untuk media belajar. Pada awalnya, Mas Gio memperkenalkan semua bagian hardware komputer dari Central Prosesor Unit (CPU), Keyboard, Monitor, loud speaker, dll. Cara yang beliau gunakan adalah dengan mengarahkan telapak tangan saya ke benda yang dimaksud. Saya lalu meraba dan mengvisualisasikan dalam benak bentuk dari hardware pada komputer. Setelah pengenalan, saya mulai diajarkan hal-hal dasar dalam pengoperasian komputer seperti mengaktifkan dan mengnonaktifkan komputer, pengenalan tombol-tombol baru yang tidak ada di keyboard, akses folder, start menu, dan menelusuri lebih dalam mengenai program screen reader. Dalam proses mengaktifkan dan mengonaktifkan komputer, saya diajarkan untuk berpatokan pada getaran di CPU. Jika masih dirasakan getaran pada CPU, itu berarti komputer masih aktif. Saat itu, operating system yang digunakan adalah Microsoft Windows 98 plus Microsoft Office 2000. Untuk merek screen reader yang digunakan adalah Job Access With Speech (JAWS). Program ini adalah salah satu dari banyak program pembaca layar yang populer digunakan di Indonesia. Pengoperasian mudah dan suara yang dihasilkan relatif lebih mudah dipahami oleh tunanetra. Walaupun penglafalan atau pronunciation kata dan kalimat masih dalam bahasa Inggris Amerika, tapi cukup familiar ditelinga jika harus membaca teks berbahasa Indonesia. Untuk mekanisme dari program tersebut, mirip dengan program Microsoft Windows Narator yang sudah saya jelaskan sebelumnya.

Dalam mengajar, Mas Gio tidak hanya menyuruh saya untuk menghafal perintah-perintah dalam komputer. Beliau juga menjelaskan konsep dalam bentuk visual jika hal tersebut dibutuhkan. Seperti dimana posisi desktop, start menu, taskbar,dll. Penjelasan konsep visual tersebut turut dibantu oleh asisten Mas Gio. Kurikulum yang digunakan mengacu pada buku-buku yang lazim dipakai oleh masyarakat dalam belajar komputer. Urutan dari mulai mengakses dokumen, menyimpan dokumen, editing, formating, table, sampai membuat surat saya pelajari di kursus ini. Meskipun mengikuti kurikulum buku populer, Mas Gio juga membuat modul yang sudah disesuaikan dengan kemampuan tunanetra dalam komputer bicara. Seperti untuk icon-icon yang harus diklik dengan mouse, Mas Gio mencari solusi agar eksekusi tersebut juga bisa dilakukan menggunakan keyboard. Sehingga, kami tunanetra yang belajar komputer bicara mengetahui perintah-perintah atau short cut dengan keyboard yang mungkin tidak oleh orang awas.

Sembari belajar Microsoft Word, saya mengeksplorasi operating system Windows agar lebih lancar menggunakan komputer. Ditelusuri semua mulai dari my computer, my documents, recicle bin, control panel, dll. Hal-hal tersebut saya pelajari sendiri bersama teman-teman sambil bertanya pada yang lebih ahli tentunya. Karena pada kursus hanya ditekankan pada mahir menggunakan Microsoft Word dan Excel saja.

Belajar Microsoft Word tidak banyak hambatan yang saya temui. Saya bisa menyelesaikan kursus ini relatif singkat. Karena sebelum datang kursus, saya sudah mempelajari materi yang akan diajarkan terlebih dahulu. Sehingga Mas Gio hanya perlu membimbing dan mengetahui apakah saya sudah bisa dalam materi yang sedang diajarkan. Mungkin satu materi yang cukup sulit adalah saat membuat mail merge. Cukup banyak langkah dan perintah yang harus dihafal. Tapi pada akhirnya, saya dapat lulus program Microsoft Office Word dengan nilai B+.

Setelah belajar mengolah kata dengan Microsoft Word, selanjutnya saya belajar pengolah angka Microsoft Excel. Tidak terlalu sulit dalam belajar program ini. Karena saya hanya butuh beradaptasi dengan layar kerja Excel yang berbentuk sel-sel layaknya tabel bergaris. Tapi yang membuat saya suka program ini, karena pada dasarnya gemar matematika dan Excel sangat dinamis dengan rumus IF, Vlookup, hlookup, dan statistik yang membuat saya bisa membuat aplikasi kuis sederhana.

Kursus Microsoft Excel ini relatif cepat saya lalui. Tak ada hambatan yang cukup berarti. Hanya pada pembuatan grafik dan chart, hal tersebut sulit untuk dilakukan oleh tunanetra. Tapi dalam pengolahan angka menggunakan formula, masih sangat aksesible.

Di samping belajar Excel, saya mulai menggunakan akses internet yang tersedia di tempat kursus. Saya mulai belajar browsing di internet dan tertarik pada web programming. Saya belajar web programming seperti HTML, javascript, PHP, dan ASP secara autodidak. Karena pada waktu itu tempat dimana saya ikut kursus belum ada paket pengajaran itu. Diawali dengan membuat blog pribadi dan website gratisan, sekarang saya beserta beberapa teman saya yang juga tunanetra memiliki sebuah situs profesional yang beralamat di http://www.kartunet.com. Kartunet.com merupakan singkatan dari “karya Tunanetra” yang berarti situs ini merupakan karya dari para tunanetra. Coding website menggunakan bahasa PHP yang kami pelajari melalui tutorial-tutorial dalam internet, dan pengerjaannya dilakukan di program notepad.

Pada akhirnya, saya ujian dan lulus dengan nilai A. Setelah ini, saya berniat untuk melanjutkan kursus Microsoft PowerPoint dan Microsoft Access di tempat yang sama. Buat saya pribadi, tak ada lelah untuk mempelajari komputer. Dengan alat canggih ini, saya bisa melakukan kegiatan tulis-menulis yang lebih akses bagi tunanetra. Komputer ini pula yang telah membantu dalam proses belajar saya hingga di Universitas sekarang. Karena dengan komputer, saya bisa melihat dunia dengan jari dan pendengaran.

Other articles you might like;

Pages: 1 2

 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

No Comment to “Dengan Komputer, Tunanetra Melihat Dunia”

  1. No Comment yet. Be the first to comment...

Leave your comment here:

Koran Today

My Archives

Page Rank

Key words

  • Partner links