Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif | Dimas Prasetyo

Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif

February 6th, 2011 read 21 times 0 Comments

Sekolah-sekolah inklusif ini harus memiliki guru-guru yang sudah mengerti bagaimana mengajar pada anak didiknya yang berkebutuhan khusus. Bagaimana cara menerangkan di kelas, sehingga selain murid normal yang faham, siswa berkebutuhan khusus juga bisa mengerti dengan penjelasan dari guru. Kemudian juga bagaimana teknik dalam menerangkan pelajaran ilmu alam dan matematika kepada siswa berkebutuhan khusus. Karena mata pelajaran tersebut pada umumnya butuh perhatian yang lebih dari biasanya. Mungkin dengan kesabaran dari guru dan fasilitas tambahan seperti alat peraga, siswa berkebutuhan khusus bisa mengerti pelajaran ilmu alam dan matematika sebaik siswa normal lainnya. Tapi sebaik apapun guru dan sekolah tempat siswa berkebutuhan khusus itu belajar, hal yang terpenting adalah kesadaran dari siswa itu sendiri. Mereka harus bisa menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Harus aktif dan banyak bertanya jika mengalami kesulitan. Kemudian mencoba berdiskusi dengan guru jika guru menemui kesulitan dalam menerangkan sesuatu kepada mereka.

Dalam pergaulan di sekolah atau masyarakat umum, para penyandang cacat juga harus terbuka. Mereka jangan pernah merasa minder dengan keadaan mereka. Karena sejauh pengamatan penulis, jika si penyandang cacat itu menutup diri mereka, maka masyarakat umum juga akan menjauh atau tak berani mendekati mereka. Orang awam beranggapan jika mereka mendekati para penyandang cacat, takut jika mereka tersinggung atau tidak suka bergaul. Tapi jika para penyandang cacat membuka diri mereka dan mencoba untuk berinteraksi dengan orang normal, maka masyarakat akan dapat menerima dan akan sangat bermanfaat bagi kebutuhan sosialisasi bagi para penyandang cacat.

Di bidang lapangan pekerjaan, keadaan yang inklusif masih dalam kadar yang sedikit. Paradikma masyarakat kepada seorang tunanetra misalnya, hanya melulu pada bidang pekerjaan sebagai tukang pijit atau seorang musisi. Tapi pandangan ini sedikit demi sedikit berubah dengan mulai banyak tunanetra yang menempati posisi-posisi yang biasa dilakukan orang normal. Seperti sudah ada yang bekerja sebagai operator telepon, translater bahasa, dan lain-lain. Bahkan pekerjaan arrangement musik saat ini dengan bantuan teknologi tunanetra dapat mengerjakannya melalui komputer. Bagaimanapun juga, keadaan ini masih jauh dari harapan terwujudnya masyarakat yang inklusif. Para penyandang cacat masih sedikit yang menempati posisi-posisi penting dalam sebuah hirarki kerja. Mereka dianggap tidak mampu dan dapat merugikan perusahaan pada nantinya. Padahal dengan bantuan teknologi yang sudah maju, para penyandang cacat ini dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut asal ada latihan dan usaha terpadu dari si penyandang cacat dan pihak perusahaan.

Pemerintah dalam hal pekerjaan dan persamaan hak sudah turut serta aktif. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya undang-undang no 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat. Di sana dijelaskan definisi persamaan hak, aksesibilitas bagi penyandang cacat, dan persamaan hak serta kewajiban dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Ada sangsi administratif bagi perusahaan yang tidak memberikan persamaan hak bagi para penyandang cacat. Walaupun peraturan ini sudah cukup baik, tapi pelaksanaannya masih belum optimal. Masih banyak terjadi diskriminasi bagi para penyandang cacat di bidang pekerjaan.

Keadaan masyarakat yang inklusif ini, tidak akan bisa terwujud jika tidak ada kerjasama antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, para penyandang cacat, dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Dibutuhkan kerjasama dan saling berkontribusi di dalamnya. Sosialisasi melalui berbagai media juga sangat diperlukan dalam mempercepat proses realisasi masyarakat yang inklusif. Seperti dengan adanya website http://www.kartunet.com Website ini dibuat oleh para tunanetra dan bertujuan untuk mensosialisasikan potensi yang dimiliki oleh para penyandang cacat. Jadi, jangan pernah lelah untuk mewujudkan masyarakat inklusif yang akan menjadikan kehidupan sesama manusia menjadi lebih baik. Baik bagi masyarakat, dan akan lebih baik lagi bagi para penyandang cacat. (DPM)

Other articles you might like;

Pages: 1 2

 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

No Comment to “Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif”

  1. No Comment yet. Be the first to comment...

Leave your comment here:

Koran Today

My Archives

Page Rank

Key words

  • Partner links