Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dalam Film Erin Brockovich (2002) | Dimas Prasetyo

Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dalam Film Erin Brockovich (2002)

May 30th, 2010 read 59 times 0 Comments

Pendahuluan

Perempuan adalah laki-laki yang tidak sempurna. Ungkapan dari Plato, filsuf tersohor Yunani, serasa mampu melukiskan konstruksi sosial yang dikenakan pada diri perempuan. Dalam ubungan sosialnya di masyarakat, kedudukan perempuan  terkadang masih dirasakan ada ketimpangan yang nyata. Mereka masih dianggap sebagai objek pasif, bukan subjek dengan kemampuan untuk berbuat sesuatu atas dirinya sendiri. Hal ini dapat terlihat jelas dengan bagaimana kedudukan perempuan yang dinilai subordinat dalam hubungannya dengan kaum laki-laki. Dengan pola fikir patrialki yang masih kuat, perempuan hanya dilihat lewat kacamata kaum laki-laki dan parameter yang tak berimbang.

Lebih jauh lagi, tindakan “sepihak” ini, telah menempatkan perempuan sebagai second sex person. Mereka tidak memiliki kedudukan yang sejajar dengan kaum laki-laki. Selalu menjadi nomer dua dalam berbagai hal seperti pekerjaan, pendidikan, dan budaya. Ada restriksi sistemik yang berlaku dan dibuat untuk menghambat akses perempuan untuk mencapai kesetaraan. Semua begitu terbatas didukung oleh konstruksi-konstruksi yang berlaku.

Melihat kenyataan ini, maka muncullah gerakan- gerakan perempuan menuntut kesetaraan gender. Mereka meminta dekonstruksi terhadap stigma diskriminatif dari apa yang telah terbentuk dalam masyarakat selama ini. Dalam praktiknya, gerakan-gerakan seperti ini dinamakan Feminisme. Dikutip dari Kartika Pemilia (2009), secara umum kata feminisme dapat diartikan sebagai “gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarjinalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial lainnya”. Gerakan ini bermula pascameletusnya revolusi Amerika dan revolusi Perancis di akhir abad ke-18. Revolusi besar yang membawa angin kebebasan itu, turut membuka fikiran para perempuan atas perlakuan tidak adil yang didapatkannya dalam masyarakat.

Kesetaraan yang dimaksudkan dalam gerakan ini bukanlah untuk mentiadakan peranan laki-laki. Mereka hanya menuntut apa yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai seorang perempuan. Seperti apa yang dapat dilihat dalam buku Glosarium Seks dan Gender (2007), kesetaraan gender yang dimaksud meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Kesetaraan kesempatan dan hasil untuk perempuan dan laki-laki, termasuk penghapusan diskriminasi dan ketidaksetaraan struktural dalam mengakses sumber daya, kesempatan, dan jasa-jasa.
  2. Kesamaan perolehan kesempatan dan hasil untuk perempuan dan laki-laki, termasuk penghapusan diskriminasi dan ketidaksetaraan struktural dalam mengakses sumber daya, kesempatan, dan jasa-jasa, seperti akses yang sama untuk kesehatan, pendidikan, sumber daya produktif, partisipasi sosial, dan ekonomi.[1]

Jika ditilik lebih dalam, terdapat beberapa jenis pendekatan feminisme. Hal ini terkait dengan bagaimana teori feminisme itu digunakan dalam mendobrak ketidakadilan gender. Di antara dari jenis pendekatan teori feminisme itu ada yang bersifat radikal, liberal, atau moderat. Namun, dalam prinsipnya ada kesamaan dari varian-varian tersebut seperti yang diutarakan oleh Dominelli dalam Edi Suharto (2009).

  1. Menjunjung hak asasi wanita untuk terbebas dari penindasan.
  2. Memberi kesempatan pada wanita untuk berbicara atas nama dirinya dan berdasarkan suaranya sendiri.
  3. Mendengarkan terhadap apa yang seharusnya dinyatakan oleh wanita.
  4. Mengintegrasikan teori dengan praktik.
  5. Mencari gaya hidup alternatif di sini dan saat ini.
  6. Mencari kesesuian antara tujuan yang ingin dicapai dengan cara-cara pencapaian tujuan itu.
  7. Memetakan solusi-solusi kolektif yang menghargai individualitas dan keunikan wanita.
  8. Menghargai Kontribusi wanita.
  9. Menggunakan pengalaman-pengalaman wanita secara individu guna memaknakan realitas sosial.[2]

Fenomena gerakan feminisme ini pun tidak luput menjamah dunia media komunikasi dan sastra. Sebagai produk dari budaya, media dan sastra menjadi refleksi dari gejala-gejala sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Sifat ini dapat saling timbal balik atau saling mempengaruhi. Di satu sisi, fenomena sosial budaya dapat mempengaruhi apa yang terjawantah dalam media dan sastra. Namun di sisi lain, media dan sastra yang ada mampu membentuk sebuah wacana untuk memberikan pengaruhnya dalam masyarakat. Oleh sebab itu, lahirlah apa yang dinamakan dengan Discourse Analysis atau analisis wacana.

Menurut Barbara Johnstone dalam bukunya Introduction to Discourse Analysis (2002: 4), analisis wacana dapat dimaknai sebagai sebuat metodologi atau kumpulan metode yang bertugas untuk menjawab berbagai persoalan mengenai wacana. Wacana yang dimaksud dalam pembahasan ini tidak melulu pada teks tertulis, namun dapat lebih jauh dan luas lagi. Seperti wacana yang terbentuk pada iklan, film, poster propaganda, cerita rakyat, percakapan, pidato, dan berbagai teks baik verbal atau nonverbal.

Dalam tiap wacana terdapat ideologi atau maksud tersirat di baliknya. Terkait dengan ini, pendekatan analisis wacana memiliki tugas untuk mengungkap ideologi yang berada di dalam teks (Yuwono, 2008: 2). Berdasarkan teknik bahasa dan konteks yang terbangun di dalam teks, pengamat mampu mengetahui apa yang hendak disampaikan oleh si pembuat teks lebih kritis. Hal ini tentu saja akan berbeda dengan pengamat yang memandang teks tersebut tanpa pendekatan analisis wacana. Seperti halnya pada teks-teks iklan. Seseorang tanpa pendekatan analisis wacana, akan melihat iklan produk pemutih kulit sebagai upaya produsen untuk menjual barang produksinya kepada konsumen. Namun dengan pendekatan tersebut, akan dapat terungkap bahwa ada ideologi pascakolonial yang ingin dibangun si pembuat iklan kepada konsumen. Bagaimana tentang konsep bahwa perempuan yang cantik ialah mereka yang berkulit putih, dan seterusnya.

Dalam produk budaya seperti film misalnya, baik disadari atau tidak banyak isu sosial budaya yang dibangun sebagai sebuah wacana. Secara langsung atau tidak langsung, ia membawa sebuah isu yang dapat mempengaruhi penontonnya disamping fungsi hiburan. Seperti apa yang direpresentasikan dalam film Hollywood keluaran tahun 2002 dengan judul Erin Brockovich. Melalui esei ini, akan dikaji isu mengenai relasi sosial perempuan yang terbentuk di masyarakat dalam film Erin Brockovich (2002) berdasarkan pendekatan analisis wacana feminisme. Dengan pendekatan analisis wacana, isu-isu feminisme yang terkuak dalam film Erin Brockovich ini, akan penulis telusuri untuk menemukan jawaban atas pertanyaan bagaimana relasi sosial yang telah terkonstruksi dalam masyarakat bagi seorang perempuan dengan lawan jenisnya, sesama perempuan, dan hubungan mereka dengan masyarakat.

Perjuangan hidup perempuan dalam memperoleh kesetaraan akan selalu lebih sulit dari apa yang dibayangkan. Hal ini mampu dilukiskan secara apik oleh Julia Roberts yang berperan dalam film Erin Brockovich sebagai tokoh utama dengan nama sesuai dengan judul film ini. Sebagai seorang single parent, Erin Brockovich harus memenuhi kebutuhan hidup untuk tiga orang anaknya. Mengalami kesulitan financial karena kalah dalam kasus kecelakaan lalu-lintas, Erin Brockovich memutuskan untuk bekerja sebagai juru tulis di kantor bantuan hukum Masry & Vititoe milik Edward L. Masry. Bukan tanpa tantangan, Erin mendapatkan sambutan yang kurang hangat di tempat kerja barunya akibat sikap Erin yang di luar kewajaran. Selama bekerja di kantor, sikap Erin yang berani dengan menggunakan pakaian-pakaian minim serta kata-kata yang cenderung kasar, membuatnya dianggap aneh baik olehkaum laki-laki atau sesama perempuan teman kantornya. Namun, lambat laun sambutan ini melunak setelah Erin mampu membuktikan kecerdasannya dalam investigasi sebuah kasus lingkungan. Berikut saya kutipkan sinopsis isi film Erin Brockovich yang diambil dari situs indosiar.com

Film produksi tahun 2002 yang menghasilkan piala Oscar kategori aktris terbaik bagi bintang utamanya ini memulai kisahnya bahwa seorang orangtua tunggal dengan tiga anak, Erin Brockovich (Julia Roberts) mengganggur tanpa pekerjaan. Dengan putus asa Erin mencoba mencari pekerjaan tapi selalu gagal mendapatnya.

Tidak hanya itu, ia pun kalah dalam gugatan hukum terhadap seorang dolter sehubungan dengan kecelakaan mobil yang menimpanya. Tidak heran jika Erin menyalahkan pengacaranya, Ed Masry (Albert Finney) yang gagal membuatnya menang dalam perkara hukum itu.

Masry ternyata merasa bersalah pada kliennya itu sehingga iapun memberikan pekerjaan bagi Erin di sebuah firma hukumnya. Padahal Erin tidak punya pengalaman di bidang hukum. Tidak heran jika semua orang di firma tersebut tidak mempedulikannya, apalagi selera busana Erin buruk dan suka berbicara kasar.

Tetapi pada suatu hari ia tanpa sengaja menemukan sebuah perkara yang kelak mengubah hidupnya. Bermula dari keheranan Erin pada beberapa catatan medis yang anehnya dimasukkan ke dalam file kasus sebuah properti. karena penasaran, maka Erin pun membujuk Masry untuk mengizinkannya menyelidiki keanehan itu.

Ternyata ia menemukan kasus properti itu melibatkan sebuah perusahaan raksasa Pacific Gas & Electric Company. Rupanya perusahaan tersebut diam-diam berusaha membeli sebidang area yang terkontaminasi oleh hexavalent chromium, hasil limbah industri beracun dan berbahaya sehingga menyebabkan para penduduk yang mendiami area keracunan. Penyelidikan Erin terhadap kasus pencemaran yang dibantu Masry akhirnya membawa firma hukumnya melakukan salah satu gugatan hukum class action terbesar dalam sejarah Amerika yang ditujukan pada perusahaan yang beraset milyaran dolar.(Fachri)[3]

Konstruksi Relasi Sosial Perempuan terhadap Lawan Jenis

Hubungan antara perempuan dan laki-laki amat dipengaruhi oleh norma yang berlaku di masyarakat. Di tempat dengan adat istiadat tradisional, ada penghalang yang tegas mengatur hubungan lawan jenis. Ada konsep dalam masyarakat yang memisihkan dengan jelas peranan perempuan dan laki-laki dalam slot-slot yang telah disediakan. Seperti contoh di negara seperti Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim. Interaksi antar laki-laki dan perempuan amat terbatas pada ruang privat saja. Sebaliknya, interaksi antar laki-laki dan perempuan akan amat terbuka di tempat yang menganut paham liberalisme. Batasan antar laki-laki dan perempuan cenderung lebih bebas baik di ruang privat atau publik.

Lebih jauh lagi, ada pandangan miring dari kaum laki-laki terhadap perempuan yang bertindak tidak semestinya. Frase “tidak semestinya” di sini mengacu pada sebuah tindakan yang tidak sesuai atau berlaku umum dengan apa yang biasa terjadi di masyarakat. Seperti apa yang dilakukan oleh Erin Brockovich selama bekerja di kanton bantuan hukum Masry & Vititoe. Ia tidak berlaku sebagaimana perempuan yang bekerja di kantoran. Dalam berpakaian, ia menggunakan setelah yang tidak sesuai dengan perempuan kantoran seperti blus dan rok sepan. Dari sudut pandang para laki-laki teman sekantor Erin, mereka melihat Erin sebagai seorang perempuan berselera rendah yang tidak bisa menempatkan dirinya. Meski secara naluriah para lelaki ini suka dengan penampilan menantang Erin. Ada perasaan tidak wajar yang memang sudah terbentuk sebagai sebuah konvensi. Selain itu, fakta bahwa Erin bekerja di kantor bantuan hukum tanpa latar belakang pendidikan hukum yang baik, menguatkan stigma negatif terhadap diri Erin. Mereka melihat dia secara sebelah mata sebagai seorang perempuan yang tidak dapat berbuat banyak di kantor.

Namun, stigmasi ini kemungkinan akan berubah ketika seorang lelaki memperlakukan seorang perempuan yang bertingkah laku biasa-biasa saja atau taat norma. Sikap Erin yang bertutur kata relatif kasar dengan teman kantornya ini menimbulkan kesan menantang (dalam makna denotatif) terhadap orang lain termasuk para lelaki. Lewat kacamata patrialkal, sikap ini tidak bisa diterima laki-laki yang menempatkan posisi dirinya lebih tinggi dari perempuan. Di hadapan lelaki, perempuan harus bertindak sopan dan penurut, baru dapat dikatan sebagai perempuan yang baik. Sikap kasar ini dinilai sebagai ciri maskulin yang hanya boleh dimiliki oleh lelaki. Akan ada pandangan aneh ketika para lelaki melihat hal tersebut. Ditambahlagi dengan fakta pendidikan rendah yang dimiliki Erin. Hal itu sudah seharusnya membuat Erin sebagai seorang juru tulis yang merendahkan dirinya di hadapan teman kantor dengan pengalaman di bidang hukum.

Dalam pandangan lelaki, penampilan luar adalah hal terpenting bagi perempuan. Ketika ia berpenampilan menarik, mampu menempatkan diri, dan bertingkah laku sopan, maka ada sikap hormat lelaki terhadap mereka. Namun, sikap yang cenderung kasar dari Erin ini dapat dilihat sebagai kritik terhadap hal ini. Di sini terungkap bahwa ketika dari penampilan luar seorang perempuan sudah tidak meyakinkan, maka mereka akan langsung mendapat label tidak baik dari lelaki.

Di sisi lain, jika ada kesempatan yang sama dan kepercayaan bagi perempuan yang mungkin penampilannya kurang meyakinkan ini, bisa jadi hasil pekerjaan mereka lebih baik dari para lelaki berpengalaman itu. Hal ini coba diberikan oleh Edward L. Masry selaku pimpinan Erin. Sempat agak ragu dengan kemampuan Erin, ditambah dengan penampilannya yang tidak intelektual, Edward mengizinkan Erin untuk melakukan investigasi terhadap kasus pencemaran lingkungan oleh Pasific Gaz and Electricity Company (PAE). Sikap ini cukup langka ketika seorang lelaki mau memberikan kepercayaan kepada pegawai perempuan tak berpengalaman seperti Erin. Lebih didorong oleh rasa simpati, Edward mendukung keinginan Erin ini. Pada akhirnya, kepercayaan ini tidak disia-siakan oleh Erin. Ia berhasil membongkar kasus yang ditutup-tutupi oleh PGE, dan sukses dalam memenangkannya.

Dapat disimpulkan sejauh ini bahwa hubungan antar perempuan dan lelaki dapat terjadi ketimpangan ketika masih ada pola pikir patriarki lelaki memandang perempuan. Perempuan masih dilihat sebatas penampilan luarnya saja, bukan apa yang mampu dilakukannya. Ada kesempatan yang tidak merata didapatkan oleh perempuan.

Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dengan Perempuan

Walaupun sama-sama perempuan, tapi ada perbedaan yang mencirikan satu sama lain. Perbedaan ini bersifat unik yang amat pribadi dalam diri perempuan. Seperti contoh ada perempuan yang bertingkah laku amat teratur dan sopan. Dalam berbicara, tak pernah ada kata-kata kasar atau umpatan yang keluar dari mulutnya. Hal inilah yang menjadi konstruksi umum dalam masyarakat. Masyarakat menuntut perempuan untuk berlaku seperti itu, dan itulah yang dilakulan oleh perempuan kebanyakan. Di sisi lain, ada pula perempuan yang tidak bertingkah laku sepenuhnya sesuai dengan konstruksi yang ada. Hal ini dapat terlihat seperti apa yang ditunjukan oleh Erin Brockovich. Ia bertingkah laku tidak seperti sewajarnya perempuan di kantor yakni berpakaian resmi dan bertutur kata halus. Ia cenderung berpakaian seenaknya dan bertutur kasar. Hal ini akan dianggap aneh oleh perempuan sekalipun.

Penyimpangan yang dilakukan seorang perempuan dari apa yang telah dikonstruksikan dalam masyarakat, ternyata tidak hanya dianggap “aneh” oleh lelaki, tapi hal ini turut diiyakan oleh sesama perempuan. Dalam kasus Erin Brockovich, terlihat jelas sikap tidak senang teman sejawatnya yang perempuan terhadap perilaku Erin. Ketika yang lain bertingkah laku seragam, sesuai dengan aturan tidak tertulis yang ada, Erin bertingkah ekstrim yang tidak sewajarnya. Hal ini membuat para perempuan di sana menjadi tidak nyaman. Ada perasaan risih dan menempatkan Erin pada posisi yang lebih rendah dari mereka. Para perempuan kantoran ini menilai bahwa tingkah laku Erin itu tidak menghargai dirinya sendiri sebagai seorang perempuan. Dari sini dapat dipahami bahwa ada pengaruh patriarki pada pola fikir mereka. Mereka mengikuti apa yang hakikatnya dingini oleh lelaki, bukan murni dari perempuan sendiri.

Lebih jauh lagi, fakta pendidikan yang tidak terlalu tinggi, turut membuat para perempuan kantoran ini melihat Erin pada posisi yang lebih rendah dari mereka. Pada umumnya, teman sejawat Erin yang telah lebih dulu bekerja di kantor pengacara milik Edward L. Masry ini adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan hukum. Sedangkan Erin, ia hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak berpendidikan terlalu tinggi.

Dalam relasi sosial yang terjadi antar perempuan sekalipun, ternyata masih bisa ditemui diskriminasi. Pembedaan itu bisa didasarkan pada stigma negatif pada perempuan yang tidak taat aturan dan masalah tingkat pendidikan. Jadi dapat disimpulkan sejauh ini bahwa relasi antar perempuan bukannya tanpa masalah, ada konflik dalam gender yang sama termasuk persoalan stigmasi negatif.

Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dengan Masyarakat

Dalam masyarakat, perempuan selalu mendapatkan posisi yang tidak terlalu baik. Ada pembedaan perilaku masyarakat terhadap lelaki dan perempuan. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dengan adanya istilah Bread Winner untuk lelaki dan House Maker bagi perempuan. Kedua istilah tersebut mengacu pada konstruksi bahwa lelaki itu harus menjadi pemimpin dalam keluarga. Mereka bertugas mencari nafkah dan beraktivitas di luar rumah. Sedangkan bagi perempuan, mereka identik sebagai sesuatu yang pasif, dan harus bertanggungjawab pada masalah domestik. Ada segregasi yang cukup terang antara peranan lelaki dan perempuan di dalam masyarakat.

Selain itu, pandangan langsung masyarakat terhadap perempuan yang hidup single pun amat negatif. Hal ini berbeda dengan pandangan terhadap lelaki yang hidup sendiri tanpa keluarga. Seperti kisah Erin Brockovich yang hidup sebagai single parent bersama tiga orang anaknya. Ada pandangan-pandangan negatif dari orang sekitarnya terutama dengan catatan pribadi Erin yang pernah cerai sebanyak dua kali. Hal ini akan berbeda ketika masyarakat melihat seorang lelaki yang hidup sebagai single parent. Ketika lelaki itu mampu hidup mandiri bersama anak-anaknya, maka persepsi yang muncul adalah lelaki itu mapan dan bertanggungjawab. Sedangkan bagi seorang janda, akan ada label negatif yang hakikatnya didorong oleh persepsi bahwa perempuan tidak akan mampu hidup tanpa lelaki. Oleh karena itu, muncul di sini tokoh George yang simpati dengan anak-anak Erin karena ibu mereka sibuk bekerja di luar. Ketika Erin tak ada di rumah, George datang untuk menemani anak-anak Erik bermain.

Sejauh ini, dari relasi sosial perempuan terhadap masyarakat terlihat bahwa ada kecenderungan untuk melihat perempuan dari sudut pandang yang tidak terlalu menguntungkan. Perempuan dinilai sebagai subordinat dari kaum lelaki yang lebih mendominasi. Selain itu, perempuan single parent yang memutuskan untuk bekerja di luar rumah pun turut mendapat pandangan yang kurang baik. Dengan bekerja di luar rumah, ada kesimpulan dari masyarakat bahwa anak-anaknya menjadi kurang terurus.

Penutup

Perempuan sebagai gender yang selalu diposisikan sebagai subordinat dari kaum lelaki tak pernah lepas dari masalah. Problematika ini ternyata tidak hanya menyangkut hubungannya dengan kaum lelaki, tapi pula dengan sesama perempuan dan masyarakat secara umum. Isu feminisme yang terkuak dalam film Erin Brockovich (2002) ini, secara nyata terjadi di lapangan. Ada seseorang yang benar-benar bernama Erin Brockovich dan mengalami apa yang persis dengan di film. Dari kisah hidup dia ini, Hollywood mengangkatnya dalam layarlebar. Hal ini membuktikan bahwa ketimpanganrelasi sosial perempuan menjadi isu yang cukup krusial. Ketikaseseorang bertingkah lalu tidak sesuai dengan konstruksi sosial yang ada, maka hal tersebut akan dianggap tidak wajar. Di sinilah ada upaya dari tokoh Erin Brockovich dalam mengubah konstruksi lama tersebut. Ia mampu membuktikan bahwapenampilan luar saja tidak menentukan apa yang mampu dikerjakan. Setelah ia mampu melaksanakan sebuah tugas besar dengan berhasil, maka lambat laun sambutan teman sejawatnya melunak dan mampumemahamipribadi seorang Erin di balik sikap kasar dan penampilan yang kurang meyakinkan. Di sinilah berdasarkan kemampuan pengamat untuk melihat sebuah produk budaya melaluianalisis wacana, dapat terbongkar isu feminisme yang terkait dengan konstruksi relasi sosial perempuan.

Daftar Acuan

  1. Johnstone, Barbara. 2002. Discourse Analysis. Oxford: Blackwell Publishers.
  2. Yuwono, Untung. 2008. “Ketika Perempuan Lantang Menentang Poligami:

[1] Sugihastuti dan Siti Hariti Sastriyani, Glosarium Seks dan Gender, (Yogyakarta,

[2] Lihat http://www.policy.hu/suharto/Naskah%20PDF/YogyaFEMINISMESocialWork.pdf diunduh pada tanggal 25 Mei 2010 jam 12:30 WIB

[3] Lihat http://www.indosiar.com/sinopsis/3031/erin-brockovich diunduh pada 26 Mei 2010 jam 09:00 WIB

Other articles you might like;

 

Sign up Free Email Newsletter

Stay Updates with this Blog. Get Free email newsletter updates, Enter your Email here:

Don't forget to confirm your email subcription

   

No Comment to “Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dalam Film Erin Brockovich (2002)”

  1. No Comment yet. Be the first to comment...

Leave your comment here:

Koran Today

My Archives

Page Rank

Key words

  • Partner links